Lalat Hitam

Lalat Tentara Hitam Membawa Berkah





Lalat Hitam atau lebih dikenal dengan sebutan black soldier fly, kini sudah mulai memberi manfaat financial yang signifikan bagi sebagian masyarakat di Indonesia, bagaimana tidak, lalat ini menghasilkan manggot/larva nya yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran, bahkan sekarang ini harga manggot lalat ini dihargai 10 juta rupiah per kilogramnya. 

Diketahui bahwa manggot lalat hitam ini selain dapat mengurai sampah organik juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak ayam dan ikan.
Seperti halnya di Grumbul Larangan, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas sebagian warganya sudah membudidayakan lalat hitam.

Lalat Hitam diketahui secara alami tidak membawa kuman yang berbahaya bagi kesehatan, jadi tidak ada ketakutan bagi masyarakat yang ingin membudidayakan lalat hitam ini.


Praktek Pengelolaan Sampah dengan BSF di Kabupaten Blora
Kepala Seksi Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Blora, Prih Hartanto menjelaskan Lalat Tentara Hitam tersebut tidak dilepas begitu saja. Namun diternak atau dikembangbiakkan dalam kawasan khusus terlebih dahulu.

Pengembangbiakkan lalat hitam ini untuk menghasilkan maggot atau belatung. Belatung dari lalat hitam inilah nanti yang akan bekerja untuk mengurai sampah, sehingga volume sampah akan berkurang dan mengurangi bau sampah.

Menurutnya, BSF (Black Soldier Fly) dikembangbiakkan di tempat yang disebut nursery. Setelah lalat bertelur, telur-telur tersebut dipisahkan dan ditempatkan di tempat berbeda untuk proses penetasan.

Setelah menetas dan berusia lima hari diletakkan pada sampah organik. Memasuki usia 10 hari, maka larva tersebut sudah dapat dipanen dan ditebarkan ke tumpukan sampah untuk bekerja mengurai sampah.

Di Kabupaten Blora setiap hari bertambah bisa segera terurai secara alami dengan menggunakan metode BSF.

Metode BSF efektif untuk mengurangi volume sampah di TPA, jadi metode ini bisa menjadi solusi permasalahan pengolahan sampah di Kabupaten Blora.

Di negara negara maju, pemanfaatan manggot dari lalat hitam ini sudah sangat populer dan diketahui berhasil, terutama dalam hal pengurangan dan penanggulangan sampah organik dan juga dimanfaatkan untuk pakan.

Praktek Pemanfaatan BSF di China

Zhang Zhijian, guru besar di fakultas lingkungan dan sumber daya alam Universitas Zhejiang mengatakan kini (2019) metode BSF mereka dapat mengolah sampah 3000 ton per tahun. 

Kepada harian The Beijing News, Zhang mengatakan, pasukan lalatnya saat masih berupa belatung amat menyukai sampah, kotoran manusia, dan buah-buahan busuk. Metabolisme mereka membantu proses pembusukan sampah yang akhirnya menghasilkan produksi turunan berupa pupuk dan makanan hewan "Saya memulai eksperimen ini pada 2014. 10 ton sampah bisa menghasilkan 1,2 ton lalat," kata Zhang kepada harian The Beijing News. Zhang mengatakan, saat peternakan lalat itu dibuka pertama kali pada 2016, tidak ada warga yang mau membuang sampah rumah tangganya ke tempat itu. Namun, berkat upaya pemerintah lokal mendorong upaya daur ulang sampah, kini peternakan lalat itu menampung 12 ton sampah sehari. 

Zhang menegaskan, seluruh proses daur ulang di tempat itu amat bersih dan aman. Sebab, lalat tidak mempawa patogen atau mikroorganisme. Lalat dewasa hanya minum air dan hidup hanya 10 hari. Sementara larva lalat atau belatung hanya makan sampah. Pada 2016, Zhang membangun tiga rumah kaca. Satu rumah kaca hanya digunakan untuk menghancurkan dan mengaduk sampah. Lalu, setelahnya probiotik dimasukkan ke dalam sampah yang sudah hancur itu untuk mengubahnya menjadi tempat telur lalat menetas menjadi belatung. Sementara rumah-rumah kaca lainnya berisi tumpukan nampan, yang berisi sampah rumah tangga yang sudah diolah untuk menampung belatung. Belatung di sampah itu kemudian tumbuh dengan mengonsumsi nitrogen, fosfor, dan minyak yang ada di dalam sampah. Lalu, kotoran mereka bisa diolah menjadi pupuk yang digunakan warga untuk menyuburkan tanaman. Sementara belatungnya, yang dijual dengan harga 10.000 yuan atau sekitar Rp 21 juta per ton bisa digunakan sebagai makanan ayam, ikan, udang, atau burung.


Sumber : Dari berbagai sumber (Kompas.com,news.okezone.com dll)

No comments:

Post a Comment