Showing posts with label Kecoa. Show all posts
Showing posts with label Kecoa. Show all posts

PERBEDAAN KECOA JERMAN DAN AMERIKA

PERBEDAAN KECOA JERMAN DAN AMERIKA


Dari nama kedua kecoa ini sudah jelas ada perbedaan yang mencolok, namun apakah kedua kecoa ini memang sangat berbeda secara morfologi nya, jawabannya adalah ya. Baca tulisan ini sampai selesai, anda akan sangat mudah membedakan mana kecoa Jerman dan mana kecoa Amerika.
Satu trik yang sangat mudah untuk kamu yang membaca tulisan ini, yang pertama kamu harus bisa membayangkan besarnya/tingginya rata-rata orang Jerman dan tidak untuk orang Amerika, biasanya tidak setinggi orang Jerman, dan sudah pasti tidak juga setinggi kita rata-rata orang Indonesia.
Untuk ukuran kedua kecoa ini malah sebaliknya, yaitu ukurang kecoa Jerman kecil kecil dan ukuran kecoa Amerika besar-besar. Ingat…. ! kecoa Jerman itu kecil kecil dan kecoa Amerika itu besar besar.


Gambar sebelah kiri adalah kecoa Jerman sedangkan sebelah kanan adalah kecoa Amerika.

Penjelasan Ilmiah
Bionomik dan Morfologi Kecoa Jerman dan Amerika


Taksonomi Kecoa
Kerajaan : Animalia
Kelas : Insecta
Infra Kelas : Neoptera
Ordo : Blattodea
Famili : Blaberidae, Blatellidae, Blattidae, Cryptocercidae, Polyphagidae, Nocticolidae
Kecoa adalah serangga dengan bentuk tubuh oval, pipih dorso-ventral. Kepala tersembunyi di bawah pronotum. Pronotum dan sayap licin, nampaknya keras, tidak berambut dan berduri. Berwarna coklat dan coklat tua.
Kecoa tergolong serangga yang tidak disukai kehadirannya oleh penghuni rumah, pemukiman dan perusahaan yang berkaitan dengan industri makanan. Sifat kecoa yang lincah, selalu berkeliaran mencari makanan pada malam hari (nokturnal) baik di rumah maupun di tempat-tempat kotor di luar rumah. Cara mencari makan demikian dikhawatirkan dapat menyebarkan penyakit pada manusia dengan meletakkan agen penyakit pada makanan, piring, peralatan memasak dan barang-barang lainnya.
Di Indonesia terdapat 2 jenis kecoa yang paling dominan yaitu kecoa Jerman dan kecoa Amerika (Periplaneta Germanica dan Periplaneta Americana). Di sampaing ada beberapa jenis lain yang jarang seperti Periplaneta Australiae, P. Brunnea dan Blatta Orientalis.

Bionomik Kecoa

Kecoa biasa berkembang biak cukup baik di lingkungan/gedung yang di dalamnya tersedia bahan makanan dan terlindung. Dapur komersil seringkali menjadi tempat perindukan ratusan dan ribuan kecoa dalam berbagai stadium. Kecoa dapat pindah dari suatu tempat ke tempat lain baik secara individu maupun dari kantung telur (ooteka) yang menempel pada kardus, tas/koper, furniture, bus, kereta api, kapal laut dan pesawat.

Prilaku kecoak

Kecoa pada umumnya dapat terbang, tetapi kebanyakan kecoa berjalan cepat, sangat aktif pada malam hari, kalau ada kecoa siang hari ini menandakan jumlah kecoa yang sangat banyak (overpopulasi). Kecoa termasuk pemakan segala (omnivor), kecoa memiliki sifat thigmotactic yaitu istirahat di dalam celah celah dinding dalam waktu lama (tiga perempat hari). Kecoa dewasa dan pradewasa seringkali istirahat dalam bentuk kelompok yang besar bersama-sama di celah yang sempit. Kecoak Jerman dewasa dapat bersembunyi dalam retakan yang lebar 1,6 mm, kecoak muda (nymph) cenderung tinggal di celah yang lebih sempit lagi agar terlindungi, biasanya kecoa ditemukan mengumpul di suatu sudut dan bergerak berjalan di sepanjang pinggiran dinding.

Tempat Perindukan

Kecoa menyukai tempat-tempat yang kotor, lembab dan sejuk seperti WC (kebanyakan kecoa Amerika), di bawah tumpukan barang barang, di gudang yang lembab dan berbau dan di tempat kotor lainnya.

Cara Hidup

Dengan tubuh yang pipih apabila merasa terganggu atau terancam kecoa akan menyembunyikan tubuhnya di celah yang sempit, kecoa juga dapat menggunakan cara lain untuk melindungi diri dari bahaya, yaitu mengeluarkan cairan berbau busuk.



 Morfologi Kecoa

1.    Caput (kepala)

Bagian kepala terdapat mulut, sepasang mata majemuk yang hanya dapat membedakan gelap dan terang. Di kepala juga terdapat sepasang antenna yang panjang (alat indera untuk mendeteksi bau-bau dan vibrasi di udara). Dalam keadaan istirahat kepalanya ditundukkan ke bawah pronotum yang berbentuk seperti perisai.

2.    Thoraks (dada)

Di bagian dada terdapat tiga pasang kaki dan sepasang sayap yang menyebabkan kecoa dapat terbang dan berlari dengan cepat. Terdapat struktur seperti lempengan besar yang berfungsi untuk menutupi dasar kepala dan saya di belakang kepala di sebut pronotum.

3.    Abdomen (perut)

Perut kecoa merupakan bagian system reproduksi. Pada ujung abdomen terdapat sepasang cerci yang berperan sebagai alat indera. Cerci berhubungan langsung dengan kaki melalui ganglia saraf abdomen (otak sekunder) yang penting dalam adaptasi pertahanan. Apabila kecoa merasakan adanya gangguan pada cerci maka kakinya akan bergerak lari sebelum otak menerima tanda-tanda atau sinyal.

KECOA AMERICA (Periplanetta Americana)

Berukuran panjang 35 – 40 mm dan lebar 13 – 15 mm, merupakan jenis kecoa yang paling besar. Bagian abdomen berwarna merah kecoklatan, pronotum berwarna kuning keruh dengan bercak coklat di bagian tengahnya. Bagian belakang abdomen mempunyai serkus yang relative panjang dan runcing seperti cemeti.

KECOA JERMAN (Periplanetta Germanica)

Kecoa berukuran kecil dengan panjang tubuh hanya 10 – 15 mm dan lebar hanya 4 - 5 mm, warna bagian abdomen coklat muda agak kekuningan, yang betina sedikit lebih tua warnanya dari pada jantan. Pronotumnya berwarna coklat, dari atas terlihat dua garis hitam memanjang. Dua garis ini juga terdapat pada stadium nimfanya. Nimfa berwarna coklat tua kehitaman bergerak cepat sangat aktif.

Sumber : Modul Materi Inti 4 KKP Makasar 2019

Contoh Laporan Pengendalian Vektor


CONTOH LAPORAN PENGENDALIAN VEKTOR


1.    LATAR BELAKANG

Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit infeksi dan menular masih menjadi fokus perhatian sementara terjadi peningkatan penyakit-penyakit tidak menular. Disamping itu penyakit baru (new emerging diseases) ditemukan dan kecendrungan meningkatnya beberapa penyakit yang sudah berhasil dikendalikan (re-emerging diseases).
Penyakit tular vektor (Arthropod-borne diseases) adalah penyakit yang disebabkan oleh patogen (mikroorganisme infeksius) pada manusia, dan ditularkan melalui gigitan arthropoda seperti nyamuk, lalat, kutu, lipas, pinjal, tungau dan caplak. Diantaranya malaria, demam berdarah dengue (DBD), filariasis, chikungunya dan japanese encephalitis (Hadi 2016).
Salah satu penyakit tular vektor adalah demam berdarah dengue (DBD). Penyakit ini banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. DBD disebabkan oleh virus dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes spp. yang terinfeksi virus dengue, termasuk dalam kelompok B Arthropod Virus (Arbovirosis) dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 (Kemenkes RI 2010).
Penyakit tular vektor merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan, baik lingkungan fisik, biologi dan sosial budaya. Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi kejadian penyakit tular vektor di daerah penyebarannya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya angka kesakitan penyakit tular vektor diantaranya perubahan iklim, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat.
          Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Banda Aceh merupakan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan RI yang ada di daerah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal P2P. KKP Kelas III Banda Aceh dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi yaitu melaksanakan kegiatan pengendalian vektor dan binatang penular penyakit. dilaksanakan oleh wilayah kerja sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan layanan

2.    DASAR HUKUM

1)         UU Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut.
2)         UU Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara.
3)         UU Nomor 4 Tahun 1948 tentang Wabah Penyakit Menular.
4)         UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
5)         UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.
6)         PP Nomor 40 Tahun 1991 tentag Penanggulangan Wabah Penyakit Menular
7)         Permenkes RI Nomor 50 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutus Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Untuk Vektor dan Binatang Penular Penyakit Serta Pengendaliannya.
8)         Kepmenkes RI Nomor 431/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Teknis Risiko Lingkungan di Pelabuhan/Bandara/Pos Lintas Batas Darat.
9)         Permenkes RI Nomor 356/Menkes/Per/IV/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan sebagaimana telah diubah dengan Permenkes RI Nomor 2348/Menkes/Per/XI/2011.
10)      Permenkes RI Nomor 62 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Kesehatan Haji
11)      IHR 2005

3.    TUJUAN

Tujuan Umum
Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit serta meningkatnya pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonotik
Tujuan Khusus
Pengawasan dan pengendalian nyamuk (aedes dan annopheles)
Pengawasan dan pengendalian kecoa
Pengawasan dan pengendalian lalat
Pengawasan dan pengendalian tikus (binatang pembawa penyakit) 

4.    HASIL KERJA

a     Pengawasan dan pengendalian nyamuk (aedes dan annopheles)
1)    Surveilans Vektor Aedes
Bangunan yang diperiksa pada tahun 2016 berjumlah 2074 dan 5174 kontainer yang diperiksa. Terjadi penurunan 482 bangunan dan 714 kontainer  yang diperiksa pada tahun 2017 dibandingkan tahun 2016 (Gambar 4).
Ae. aegypti sebagai vektor yellow fever, DBD, chikungunya dan zika memiliki perilaku berkembangbiak pada wadah (kontainer) yang dapat menampung air serta tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Stadium pra dewasa mempunyai kebiasaan hidup pada wadah buatan manusia yang berada di dalam maupun di luar rumah (Harwood dan James 1979 dalam Hasyimi da Soekino 2004).
Korelasi antara bangunan dan kontainer yang diperiksa memberikan kontribusi kepada tingkat kepadatan populasi vektor DBD. Keberadaan kontainer ini sangat berperan dalam kepadatan larva Ae.aegypti. Semakin banyak kontainer, semakin banyak tempat perindukan dan kepadatan larva Ae.aegypti, maka akan semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DBD (WHO 2005). Pengaruh berbagai faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban dan curah hujan ikut mempengaruhi kepadatan larva Ae. aegypti.
HI area primeter tertinggi dilaporkan oleh wilayah kerja Meulaboh sebagaimana Tabel 1. 
Tabel 1    Nilai HI area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, bulan Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.22
0.22
1.00
78.0
0.00
0.00
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
Nilai HI area buffer tertinggi di wilayah kerja Sinabang (HI > 1%) dan paling rendah wilayah kerja Bandara SIM, Ulee Lheue, Lhoknga dan Meulaboh dan Labuhan Haji  (Tabel 2). Parameter HI ini menunjukkan tingkat infestasi jentik pada suatu wilayah atau tempat, sehingga semakin tinggi nilai HI menunjukkan bahwa semakin tinggi pula populasi vektor tersebut. 
Tabel 2    Nilai HI area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember, 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.13
0.00
0.00
0.00
20.0
10.0
0.00
20.0
 Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
Nilai CI tertinggi di wilayah kerja Tapaktuan sebagaimana ditunjukkan Tabel 3. CI juga menunjukkan tingkat infestasi suatu vektor pada daerah tertentu. 
Tabel 3    Nilai CI area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.13
1.50
0.00
63.0
0.20
60.0
0.00
0.00
Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil

Nilai CI area buffer tertinggi dilaporkan oleh wilayah kerja Tapaktuan (Tabel 4).

Tabel 4    Nilai CI area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.17
0.00
0.00
0.00
0.30
8.82
0.00
0.00
 Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil
 2)    Surveilans Vektor Anopheles
 Area perimeter kepadatan larva Anopheles tertinggi di wilayah kerja Sinabang rata-rata 6 larva per cidukan dan terendah di wilayah kerja Bandara SIM, Malahayati, Lhoknga dan Meulaboh dan Singkil (Tabel 7). Kepadatan larva dihitung berdasarkan Dipper Index (DI) adalah angka pengukuran larva Anopheles berdasarkan perbandingan jumlah jentik yang ditemukan dibandingkan dengan jumlah cidukan.
Survei Anopheles stadium pra dewasa, untuk mengetahui habitat dan distribusi spesies yang ada di daerah pengawasan dan hubungan larva dengan hewan atau tanaman yang ada disekitar tempat perkembangbiakan.
 Tabel 7    Kepadatan larva Anophles (DI) area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember  2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
6.00
0.30
0.00
0.00
 Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil
Area buffer kepadatan larva (DI) tertinggi di wilayah kerja Sinabang rata-rata 5 jentik per cidukan (Tabel 8).
Tabel 8    Kepadatan larva Anophles (DI) area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
5.00
0.40
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
Man Hour Density (MHD) merupakan kepadatan Anopheles stadium dewas per jam. MHD merupakan angkat kepadatan rata-rata nyamuk per orang per jam. Lokasi pengamatan dan penangkapan nyamuk dilakukan disekitar tempat-tempat perindukan yang ada disekitar pelabuhan dan bandara. MHD lebih menggambarkan pola fluktuasi populasi Anopheles pada jam-jam tertentu sehingga dapat diketahui perilaku nyamuk tersebut seperti ditampilkan pada Tabel 9.  
Tabel 9    Kepadatan nyamuk Anophles (MHD) area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
13.00
6.00
0.00
0.00

Keterangan  : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
MHD area buffer tertinggi di wilayah kerja Sinabang seperti ditampilkan pada tabel Tabel 10. 
Tabel 10  Kepadatan nyamuk Anophles (MHD) area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.04
0.00
0.00
0.00
25.00
4.00
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil
Man Bitting Rate (MBR) merupakan indek kepadatan nyamuk yang hingga per orang per malam.  Indek MBR menggambarkan perilaku menggigit (perilaku mencari darah) sehingga dapat diketahui keaktifan menggigit.
Untuk area perimeter indek MBR tertinggi di wilayah kerja Sinabang dan Tapaktuan (Tabel 11). 
Tabel 11  Kepadatan nyamuk Anophles (MBR) area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
3.00
3.00
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
Area buffer indek MBR tertinggi di wilayah kerja Sinabang (Tabel 12) 
Tabel 12  Kepadatan nyamuk Anophles (MBR) area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.04
0.00
0.00
0.00
3.00
1.00
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil
b.    Pengawasan dan pengendalian kecoa
Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat pada umumnya. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh hygiene dan sanitasi. Namun dalam beberapa kasus kejadian diare erat kaitannya dengan keberadaan vektor mekanis diantaranya lipas (kecoa). Kehidupan kecoa pada tempat-tempat lembab dan kotor sehingga beberapa kuman atau patogen dapat berpindaj ketika kecoa hingga di makanan dan tempat-tempat penyajian makanan.
c.    Pengawasan dan pengendalian lalat
Lalat bertindak sebagai vektor mekanis, keberadaan lalat erat kaitanya dengan kondisi sanitasi. Keberadaan lalat disuatu tempat merupakan indikator kebersihan dan mempengaruhi nilai estetika tempat tersebut.
d.         Pengawasan dan pengendalian tikus (binatang pembawa penyakit)
Tikus merupakan hewan pengerat (rodensia)yang sering berasosiasi dengan kehidupan manusia. Kehadiran tikus dapat menimbulkan kerugian baik ekonomi dan kesehatan. Peranan tikus dalam bidang kesehatan sebagai resevoir berbagai macam penyakit seperti leptospirosis, pes sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian. Pengendalian mekanik dilakukan dengan pemasangan perangkap tikus.

5   PENUTUP

Demikianlah laporan ini kami perbuat, laporan ini masih banyak terdapat kekurangan untuk itu kami mohon masukan untuk perbaikan dalam penyusunan laporan di masa mendatang.


Baca Juga Contoh Laporan Survey Jentik Aedes :

https://www.entomologikesehatan.com/2019/04/contoh-laporan-survey-jentik-nyamuk.html