Showing posts with label Lalat. Show all posts
Showing posts with label Lalat. Show all posts

MasyaAllah! Atasi masalah Lalat hanya dengan seutas tali

Kendalikan Populasi Lalat Dengan Tali


Dari judul postingan di atas anda sudah bisa menebak sekilas apa yang akan saya bahas disini yaitu Lalat dan Tali.

Ini adalah sebuah keajaiban dalam ilmu entomologi kesehatan, buat anda para entomolog kesehatan atau yang pernah belajar tentang bionomik lalat di bangku kuliah atau pelatihan, anda akan mudah memahami prinsip kerja dari metode pengendalian lalat ini.

Namun bagi anda yang tidak familiar dengan prilaku lalat secara detail namun sangat bermasalah (baca: merasa terganggu) dengan populasi lalat yang banyak di sekitar anda, juga bisa mempraktekkan langsung apa yang nanti saya sampaikan selanjutnya, karena konsep pengendalian lalat yang saya tawarkan ini InsyaAllah sangat simpel, mudah, efektif, efisien untuk dilakukan dan yang paling utama adalah tidak menggunakan racun/insektisida.

Macam-Macam Teknik Pengendalian Vektor dan Binatang Pengganggu


Dalam ilmu entomologi kesehatan kita kenal teknik pengendalian vektor dan binatang pengganggu itu dibagi ke dalam beberapa metoda:

1. Pengendalian secara Fisik
2. Pengendalian secara Kimia
3. Pengendalian secara Biologi

Kita tidak lagi membahas tentang apa pengertian dari ketiga metoda di atas namun disini kita fokus kepada teknik pengendalian lalat dengan menggunakan tali yang dapat kita kategorikan kedalam gabungan kedua teknik pengendalian yaitu teknik pengendalian lalat secara fisik dan kimia.

Mengapa kita kategorikan ke dalam teknik pengendalian secara Fisik dan Kimia, alasan utama adalah karena pada saat yang bersamaan ketika kegiatan ini dilakukan kita memanfaatkan kebiasaan lalat yang sangat suka "bergantungan" atau hinggap di tali dan permukaan tajam dan juga menggunakan bahan kimia berupa lem (perekat lalat).

Alat dan Bahan Yang Digunakan


Adapun alat dan bahan yang kita gunakan sangat sederhana namun InsyaAllah sangat ampuh dalam mengatasi masalah populasi lalat di sekitar kita (rumah, warung, toko, restoran bahkan kandang dan tempat peternakan anda sekalipun).
Catat dan Ingat alat dan bahannya:
1. Tali (bisa apa saja yang penting tidak terlalu ringan sehingga selalu bergoyang dan lalat susah hinggap)
2. Lem perekat lalat (bukan kertas perekat lalat ya)
3. Gunting/ Pisau

Cara Pelaksanaannya

Untuk cara pelaksanaan sangat mudah dilakukan hanya dengan mengikuti tahap tahap berikut ini:
1. Tentukan lokasi ruangan yang akan dilakukan pengendalian, hitung luas ruangan secara kasar/ prediksi aja.
2. Potong tali sepanjang kira kira 1 meter.
3. Masukkan tali tersebut kedalam lem perekat lalat kira kira sepanjang 90 cm (sisa 10 cm untuk pengikat dan tempat pegangan.
4. Pastikan semua permukaan tali tersebut sudah basah dengan lem perekat lalat (bagian 90 cm).

Lokasi Pengendalian Lalat dan Cara Menggunakan Tali 


1. Rumah, rumah makan, restoran, warung, kantor, terminal dan lain lain (tempat keramaian orang)
  • Gantung kan tali tersebut kira kira di atas kepala orang dewasa (lebih kurang 2 m dari lantai) 
  • Gantung kan tali  di tempat tempat yang nampak banyak lalatnya
  • Jumlah tali yang digantung minimal 1 tali / 1 m2.
2. Kandang dan tempat peternakan (bukan tempat keramaian orang)
  • Buatkan tali gantungan seperti tali jemuran beberapa tali, diikat kira kira di atas hewan ternak kita (sesuaikan dengan luas kandang dan hewan ternak yang kita pelihara).
  • Gantung kan tali yang sudah dilumuri dengan lem tersebut pada tali yang dibuat sebelumnya (kira kira masih memudahkan kita akses memberi pakan hewan ternak kita).
  • Jumlah tali yang digantung minimal 1 tali / 50 cm2.
Video dibawah ini memperlihatkan bagaimana cara pengendalian lalat ini di peternakan ayam dengan menggunakan tali :
Kapan dilakukan pergantian lem?
Pergantian Lem perekat lalat dapat diganti.ketika seluruh permukaan tali sudah penuh dengan lalat atau ketika bahan perekat nya sudah tidak efektif lagi untuk melengketkan lalat disitu.

Kapan dilakukan pergantian tali?
Pergantian tali tidak perlu dilakukan kecuali untuk alasan estetika dan saat kepadatan lalat tidak lagi menjadi masalah di tempat anda.

Selamat Mencoba, Semoga bermanfaat dan ingat!! Banyak Yang Sudah Berhasil bebas dari gangguan lalat dengan metoda di atas.

Contoh Laporan Pengendalian Vektor Embarkasi dan Debarkasi Haji Tahun 2019

PENGENDALIAN VEKTOR PADA MUSIM HAJI 

EMBARKASI DAN DEBARKASI  ACEH 2019





1. Pengendalian Vektor di Asrama Haji Banda Aceh

Pengendalian Vektor di Asrama Haji Banda Aceh pada saat Embarkasi dilakukan dengan beberapa kegiatan diantaranya :


a. Pengamatan dan pengendalian jentik nyamuk Aedes

   Pengamatan/survey dan pengendalian jentik nyamuk Aedes sudah mulai dilakukan pada saat pra embarkasi yaitu seminggu sebelum pelaksanaan embarkasi haji. Pengamatan dilakukan diseluruh bangunan di lingkungan Asrama Haji, di dalam maupun di luar bangunan dengan cara observasi pada seluruh tempat-tempat penampungan air; bak mandi, bak wc, drum, ember,  dispenser, kaleng bekas, botol bekas dll. Pengamatan dilakukan dengan melihat keberadaan jentik Aedes secara detail setiap container (tempat penampungan air) yang ditemukan. Hasil yang didapatkan diisi kedalam form pengamatan jentik Aedes sesuai SOP. Setelah selesai seluruh bangunan diperiksa baik di luar maupun di dalam bangunan kemudian dilakukan perhitungan tingkat kepadatan jentik Aedes. Setelah didapatkan hasil pengamatan dan dibuatkan dalam bentuk laporan hasil pengamatan jentik dan terakhir pembuatan surat rekomendasi tindak lanjut. 


b. Pengendalian nyamuk dewasa (Pengasapan/Fogging)


   Kegiatan Fogging (Pengasapan) ini dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan survey atau pengamatan jentik nyamuk dan survey nyamuk dewasa. setelah indeks kepadatan jentik didapatkan dan diketahui melebihi standar yang dibenarkan maka dilakukan upaya pengendalian nyamuk dengan pengasapan (fogging). Fogging ini diharapkan nyamuk infektif dewasa (vektor) dapat diputuskan mata rantainya sehingga tidak terjadi penularan penyakit dari dan oleh vektor dimaksud di wilayah pengendalian. 
     

c. Pengamatan dan pengendalian tikus

      Pengamatan dan pengendalian tikus, kegiatan ini dimulai dengan dilakukan pengamatan tanda tanda keberadaan tikus di seluruh ruangan/bangunan di asrama haji, terutama di tempat penginapan (Gedung Madinatul Hujjaj dan Muzdalifah) dan juga dapur asrama haji, setelah dilakukan pengamatan tanda tanda keberadaan tikus dan diketahui tempat tempat yang terdeteksi keberadaan tikus, kegiatan selanjutnya adalah dilakukan pemasangan perangkap tikus sebagai upaya pengendalian tikus di lingkungan asrama haji Banda Aceh. Dari hasil pengamatan awal dan tanya jawab dengan petugas room boy didapatkan bahwa di gedung Madinatul Hujjaj paling banyak terdapat tanda-tanda kehidupan tikus karena banyak taik tikus ditemukan di lantai, ada lobang dari sudut langit-langit (loteng) dan juga ada beberapa sofa yang lobang bekas gigitan tikus.
        Pengendalian tikus dengan pemasangan perangkap dilakukan di Gedung Asrama Jamaah Laki-Laki (Madinatul Hujjaj), Gedung Asrama Jamaah Perempuan (Muzdalifah) dan juga di Dapur Asrama Haji. Setelah dilakukan pemasangan perangkap 4 hari berturut-turut dan setiap malamnya dilakukan pemantauan perangkap untuk memastikan tikus yang tertangkap dan juga memastikan umpan yang digunakan harus diganti atau belum. Selama 4 hari pemasangan perangkap tidak ada tikus yang tertangkap. 





d. Pengamatan/survey nyamuk annopheles 

       Selain melakukan malakukan pengamatan jentik nyamuk Ae. aegypti juga dilakukan pengamatan/survey nyamuk Annopheles dewasa. Kegiatan ini dilakukan 1 minggu sebelum pelaksanaan Embarkasi Haji Banda Aceh. Kegiatan ini dilakukan mulai dari jam 18.00 s.d 24.00 dengan umpan badan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan dan densitas nyamuk Annopheles dewasa di wilayah perimeter Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Banda Aceh pada saat operasional haji yaitu di Embarkasi Haji Banda Aceh. Dari pengamatan yang dilakukan oleh 8 orang petugas selama waktu tersebut di atas tidak ditemukannya nyamuk Annopheles dewasa, baik yang landing di badan maupun yang resting di dinding (MBR dan MHD = nol). 

e. Pengamatan dan pengendalian lalat 

    Pengamatan lalat dilakukan dengan menggunakan alat survey fly grill dan dilakukan dilokasi Dapur dan di TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara). Pengamatan Lalat ini dilakukan setiap hari selama pelaksanaan Embarkasi Haji Banda Aceh. Setiap hari hasil dari pengamatan lalat di evaluasi oleh petugas entomolog yang ditunjuk. Apabila hasil pengamatan lalat didapatkan density lalat lebih dari nilai ambang batas sesuai PMK No. 50 tahun 2017 maka langsung dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida khusus untuk lalat. Selain penggunaan insektisida lalat ini juga dilakukan upaya pencegahan dari akses lalat dengan menggunakan tirai di pintu masuk dapur sehingga menghalangi lalat untuk dapat masuk ke dapur. Selain kegiatan secara fisik di atas juga dilakukan upaya pengendalian lalat dengan menggunakan kertas perekat lalat, kertas perekat lalat ini disediakan oleh pemenang katering dan dilakukan oleh petugas kesehatan lingkungan di perusahaan katering tersebut dibawah bimbingan petugas kesehatan pelabuhan kelas III Banda Aceh. 

2. Pengendalian Vektor di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda







           Sama halnya dengan rangkaian kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor di Asrama Haji Banda Aceh, kegiatan yang sama juga dilakukan di Bandara Internasional Iskandar Muda Blang Bintang Banda Aceh.
Kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor yang dilakukan di Bandara Internasional Iskandar Muda Blang Bintang Banda Aceh dapat disebutkan sebagai berikut:
- Pengamatan dan Pengendalian vektor penyebab DBD/Yellow Fever
- Pengamatan/survey nyamuk Annopheles 
- Pengamatan dan Pengendalian vektor lalat
- Pengamatan dan Pengendalian vektor tikus
- Pengamatan dan Pengendalian Vektor di dalam Pesawat (Disinseksi)

         Khusus untuk kegiatan terakhir (Disinseksi Pesawat) biasanya langsung dilakukan oleh awak kabin atau crew pesawat yang bersangkutan dan bukti pelaksanaanya diberikan/ditunjukkan kepada petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan yang bertugas mengawasi vektor di pesawat tersebut. 

      Demikianlah rangkaian kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor yang dilakukan petugas KKP Kelas III Banda Aceh selama pelaksanaan kegiatan embarkasi dan debarkasi Haji tahun 2019. 

KUASA ALLAH



KUASA ALLAH
SERANGGA DALAM AL QURAN


NYAMUK DALAM AL QURAN


-Surat Al-Baqarah, Ayat 26


إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ


(Bahasa Indonesia)
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.


LALAT DALAM AL QURAN

-Surat Al-Hajj, Ayat 73

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٞ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابٗا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ وَإِن يَسۡلُبۡهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيۡـٔٗا لَّا يَسۡتَنقِذُوهُ مِنۡهُۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلۡمَطۡلُوبُ

                                                           (Bahasa Indonesia)
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.


RAYAP DALAM AL QURAN



-Surat Saba', Ayat 14


فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ الۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلٰى مَوۡتِهٖۤ اِلَّا دَآ بَّةُ الۡاَرۡضِ تَاۡ كُلُ مِنۡسَاَتَهُ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ كَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَ الۡغَيۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِى الۡعَذَابِ الۡمُهِيۡنِ

                                                           (Bahasa Indonesia)
Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. 


LEBAH MADU DALAM AL QURAN



-Surat An-Nahl, Ayat 65

وَٱللَّهُ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَآۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَسۡمَعُونَ

(Bahasa Indonesia)
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).


-Surat An-Nahl, Ayat 69

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسۡلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلٗاۚ يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٞ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٞ لِّلنَّاسِۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ

(Bahasa Indonesia)
kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Lalat Hitam

Lalat Tentara Hitam Membawa Berkah





Lalat Hitam atau lebih dikenal dengan sebutan black soldier fly, kini sudah mulai memberi manfaat financial yang signifikan bagi sebagian masyarakat di Indonesia, bagaimana tidak, lalat ini menghasilkan manggot/larva nya yang memiliki nilai jual tinggi di pasaran, bahkan sekarang ini harga manggot lalat ini dihargai 10 juta rupiah per kilogramnya. 

Diketahui bahwa manggot lalat hitam ini selain dapat mengurai sampah organik juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak ayam dan ikan.
Seperti halnya di Grumbul Larangan, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok Kabupaten Banyumas sebagian warganya sudah membudidayakan lalat hitam.

Lalat Hitam diketahui secara alami tidak membawa kuman yang berbahaya bagi kesehatan, jadi tidak ada ketakutan bagi masyarakat yang ingin membudidayakan lalat hitam ini.


Praktek Pengelolaan Sampah dengan BSF di Kabupaten Blora
Kepala Seksi Pengelolaan Sampah DLH Kabupaten Blora, Prih Hartanto menjelaskan Lalat Tentara Hitam tersebut tidak dilepas begitu saja. Namun diternak atau dikembangbiakkan dalam kawasan khusus terlebih dahulu.

Pengembangbiakkan lalat hitam ini untuk menghasilkan maggot atau belatung. Belatung dari lalat hitam inilah nanti yang akan bekerja untuk mengurai sampah, sehingga volume sampah akan berkurang dan mengurangi bau sampah.

Menurutnya, BSF (Black Soldier Fly) dikembangbiakkan di tempat yang disebut nursery. Setelah lalat bertelur, telur-telur tersebut dipisahkan dan ditempatkan di tempat berbeda untuk proses penetasan.

Setelah menetas dan berusia lima hari diletakkan pada sampah organik. Memasuki usia 10 hari, maka larva tersebut sudah dapat dipanen dan ditebarkan ke tumpukan sampah untuk bekerja mengurai sampah.

Di Kabupaten Blora setiap hari bertambah bisa segera terurai secara alami dengan menggunakan metode BSF.

Metode BSF efektif untuk mengurangi volume sampah di TPA, jadi metode ini bisa menjadi solusi permasalahan pengolahan sampah di Kabupaten Blora.

Di negara negara maju, pemanfaatan manggot dari lalat hitam ini sudah sangat populer dan diketahui berhasil, terutama dalam hal pengurangan dan penanggulangan sampah organik dan juga dimanfaatkan untuk pakan.

Praktek Pemanfaatan BSF di China

Zhang Zhijian, guru besar di fakultas lingkungan dan sumber daya alam Universitas Zhejiang mengatakan kini (2019) metode BSF mereka dapat mengolah sampah 3000 ton per tahun. 

Kepada harian The Beijing News, Zhang mengatakan, pasukan lalatnya saat masih berupa belatung amat menyukai sampah, kotoran manusia, dan buah-buahan busuk. Metabolisme mereka membantu proses pembusukan sampah yang akhirnya menghasilkan produksi turunan berupa pupuk dan makanan hewan "Saya memulai eksperimen ini pada 2014. 10 ton sampah bisa menghasilkan 1,2 ton lalat," kata Zhang kepada harian The Beijing News. Zhang mengatakan, saat peternakan lalat itu dibuka pertama kali pada 2016, tidak ada warga yang mau membuang sampah rumah tangganya ke tempat itu. Namun, berkat upaya pemerintah lokal mendorong upaya daur ulang sampah, kini peternakan lalat itu menampung 12 ton sampah sehari. 

Zhang menegaskan, seluruh proses daur ulang di tempat itu amat bersih dan aman. Sebab, lalat tidak mempawa patogen atau mikroorganisme. Lalat dewasa hanya minum air dan hidup hanya 10 hari. Sementara larva lalat atau belatung hanya makan sampah. Pada 2016, Zhang membangun tiga rumah kaca. Satu rumah kaca hanya digunakan untuk menghancurkan dan mengaduk sampah. Lalu, setelahnya probiotik dimasukkan ke dalam sampah yang sudah hancur itu untuk mengubahnya menjadi tempat telur lalat menetas menjadi belatung. Sementara rumah-rumah kaca lainnya berisi tumpukan nampan, yang berisi sampah rumah tangga yang sudah diolah untuk menampung belatung. Belatung di sampah itu kemudian tumbuh dengan mengonsumsi nitrogen, fosfor, dan minyak yang ada di dalam sampah. Lalu, kotoran mereka bisa diolah menjadi pupuk yang digunakan warga untuk menyuburkan tanaman. Sementara belatungnya, yang dijual dengan harga 10.000 yuan atau sekitar Rp 21 juta per ton bisa digunakan sebagai makanan ayam, ikan, udang, atau burung.


Sumber : Dari berbagai sumber (Kompas.com,news.okezone.com dll)

PENGENDALIAN LALAT DI KANDANG AYAM



PENGENDALIAN LALAT DI PETERNAKAN AYAM



Proses Penyebaran Penyakit dan Masalah Sosial Karena Lalat

Larva dan lalat dewasa menjadi hospes intermediet atau inang perantara bagi infeksi cacing pita (Raillietina tetragona dan R. cesticillus) pada ayam. Larva dan lalat dewasa sering kali termakan oleh ayam sehingga ayam dapat terserang cacing pita tersebut. Selain itu, lalat juga berperan sebagai vektor mekanik bagi cacing gilik (Ascaridia galli) maupun bakteri. Lalat yang hinggap di feses atau litter yang telah tercemar bakteri kolera maka lalat tersebut sudah berpotensi menyebarkan kolera pada ayam lainnya. 

Selain penyakit, keberadaan lalat juga menjadi penyebab keretakan keharmonisan hubungan sosial antara peternak dengan warga di sekitar lokasi peternakan. Bukan suatu keniscayaan, keberadaan lalat ini menjadi penyebab ditutupnya suatu peternakan. Lalat yang berkembang di peternakan dapat bermigrasi ke arah perkampungan warga dan warga atau masyarakat langsung melayangkan tuduhan bahwa peternakan ayam lah yang menjadi sumber munculnya lalat tersebut. 

Bagaimana Pengendalian Lalat ?

Setelah mengetahui akibat berkembangnya lalat di peternakan kita, sudah merupakan suatu kebutuhan bahwa kita harus bisa mengendalikan lalat tersebut. Sudah barang tentu, pengendalian lalat ini membutuhkan teknik yang tepat. Jika tidak, bukan tidak mungkin gara-gara lalat ini kita akan mengalami kerugian yang besar bahkan ditutupnya usaha kita. Lalat tergolong salah satu insect atau serangga yang “bandel”. Keberadaannya di kandang sangat mudah ditemui, terlebih lagi saat musim penghujan. Beberapa hal yang menjadikan lalat bandel, ialah: 

  1. Mobilitas lalat sangat tinggi karena dilengkapi dengan sepasang sayap sejati (asli) dan sepasang sayap kecil (yang menstabilkan terbang lalat) 
  2. Lalat mempunyai sistem penglihatan yang sangat baik, yaitu mata majemuk yang tersusun atas lensa optik yang sangat banyak sehingga lalat mempunyai sudut pandang yang lebar. Kepekaan penglihatan lalat ini 6 x lebih besar dibandingkan manusia. Selain itu, lalat juga dapat mengindra frekuensi-frekuensi ultraviolet pada spetrum cahaya yang tak terlihat oleh manusia. Dengan dua kemampuan ini (mobilitas dan penglihatan), lalat dapat dengan mudah mengubah arah geraknya seketika saat ada bahaya yang mengancam dirinya. 
  3. Lalat mempunyai kemampuan berkembang biak yang cepat dan dalam jumlah yang banyak. Terlebih lagi jika kondisi lingkungan cocok bagi perkembangbiakan lalat. Melihat ketiga kemampuan lalat tersebut, maka diperlukan teknik khusus untuk mengatasi atau membasmi lalat. Langkah pengendalian lalat pun harus dilakukan secara komprehensif (menyeluruh) dan terintegrasi. Langkah pengendalian lalat secara garis besar ialah kontrol manajemen, biologi, mekanik dan kimia. 

Kontrol manajemen


Penanganan feses dengan baik sehingga feses tetap kering merupakan teknik pengendalian lalat yang paling efektif. Kita tahu, feses yang lembab menjadi tempat perkembangbiakan lalat yang sangat baik (termasuk tempat perkembangbiakan bibit penyakit). Dalam 0,45 kg feses yang lembab dapat dijadikan tempat berkembang biak (melangsungkan siklus hidup) 1.000 ekor lalat. Feses yang baru dikeluarkan oleh ayam yang memiliki kadar air sebesar 75-80% merupakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan lalat. Feses ini harus segera diturunkan kadar airnya menjadi 30% atau kurang untuk mencegah perkembangbiakan lalat. Lakukan pembersihan feses minimal 1 x seminggu sehingga dapat memutus siklus perkembangbiakan lalat. Hal ini berdasarkan periode waktu lalat bertelur, yaitu setiap minggu (4-7 hari). 


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghambat perkembangbiakan lalat ialah:
  1. Membersihkan feses minimal setiap minggu sekali. Hal ini berdasarkan lama siklus hidup lalat, dimana lalat bertelur setiap seminggu sekali 
  2. Berikan ransum dengan kandungan zat nutrisi yang sesuai, terutama kandungan protein kasar dan garam. Ransum dengan kandungan protein kasar dan garam yang tinggi dapat memicu ayam minum banyak sehingga feses menjadi encer (basah) 
  3. Jika perlu tambahkan batu kapur maupun abu pada litter sehingga dapat membantu mengembalikan kemampuan tanah menyerap air 
  4. Hati-hati saat penggantian atau pengisian tempat minum. Jangan sampai air minum tumpah. Selain itu perhatikan kondisi tempat minum atau paralon dan segera perbaiki kondisi genting yang bocor 
  5. Jika feses akan disimpan, keringkan feses terlebih dahulu (kadar air < 30%) dengan cara dijemur diterik matahari (jika memungkinkan). Feses yang disimpan dalam kondisi lembab bisa mempercepat perkembangbiakan larva lalat 
  6. Perhatikan sistem sirkulasi udara (ventilasi). Kondisi ventilasi kandang yang baik dapat mempercepat proses pengeringan feses 
  7. Lakukan perbaikan pada atap yang bocor 
  8. Pastikan intalasi saluran pembuangan air berfungsi baik, jangan biarkan air mengendap 

Selain menjaga feses tetap kering, melakukan sanitasi kandang dengan baik juga menjadi langkah tepat untuk mengendalikan perkembangbiakan lalat. Langkah sanitasi yang dapat dilakukan yaitu :
  1. Segera buang atau singkirkan bangkai ayam mati maupun telur yang pecah
  2. Segera singkirkan atau jauhkan bangkai (ayam mati) dari kandang
  3. Bersihkan ransum dan feses yang tumpah segera, terlebih lagi jika kondisinya basah
  4. Bersihkan kandang dan peralatan kandang secara rutin kemudian semprot dengan desinfektan seperti Antisep, Neo Antisep atau Medisep

Kontrol biologi

Terdengar asing ditelinga kita dengan istilah ini. Memang, karena teknik ini relatif jarang diaplikasikan peternak. Meskipun demikian, teknik ini terbukti ampuh dalam mengendalikan populasi lalat. Terbukti, dari sepasang lalat dalam waktu 3-4 hari tidak bisa menghasilkan lalat sebanyak 191,01 x 1018 ekor karena secara alami larva lalat telah dibasmi oleh “lawan” lalat. Selain itu, penggunaan teknik ini akan menjaga keseimbangan ekosistem kandang.

Parasit lalat biasanya membunuh lalat pada saat fase larva dan pupa. Spalangia nigroaenea merupakan sejenis tawon (lebah penyengat) yang menjadi parasit bagi pupa lalat. Mekanismenya ialah tawon dewasa bertelur pada pupa lalat, yaitu dibagian puparium(selubung pupa) dan perkembangan dari telur tawon memangsa pupa lalat (pupa lalat mati). Selain tawon, tungau (Macrochelis muscaedomesticae dan Fuscuropoda vegetans) dan kumbang (Carnicops pumilio, Gnathoncus nanus) juga merupakan “lawan” lalat.

Aplikasi dari teknik pengendalian lalat ini memerlukan suatu menajemen yang relatif sulit. Siklus hidup hewan pemangsa lalat tersebut juga relatif lebih lama. Selain itu, hewan pemangsa lalat ini dapat juga menjadi agen penularan penyakit. Meskipun demikian, keseimbangan ekosistem akan tetap terjaga, terlebih lagi keberadaan lalat di kandang juga membantu dalam proses dekomposisi (penguraian) feses atau sampah organik lainnya sehingga baik jika digunakan sebagai pupuk kompos.


Kontrol mekanik

Teknik pengendalian lalat ini relatif banyak diaplikasikan oleh masyarakat pada umumnya. Di pasaran, juga telah banyak dijual perangkat alat untuk membasmi lalat, biasanya disebut sebagai perangkap lalat. Perangkap tersebut bekerja secara elektrikal (aliran arus listrik) dan dilengkapi dengan bahan yang dapat menarik perhatian lalat untuk mendekat. Perangkap lalat seringkali diletakkan di tengah kandang. Di tempat penyimpanan telur sebaiknya juga diletakkan perangkap lalat ini.


Lalat tidak akan bergerak atau terbang melawan arus atau arah angin. Oleh karenanya tempatkan fan atau kipas angin dengan arah aliran angin keluar kandang atau ke arah pintu kandang. Penggunaan plastik yang berisi air (biasanya di warung makan) juga bisa digunakan untuk mengusir lalat meskipun mekanisme kerjanya belum diketahui. Teknik pengendalian lalat ini (kontrol mekanik) relatif kurang efektif untuk diaplikasikan ji-ka populasi lalat banyak.

Kontrol kimiawi

Teknik pengendalian lalat ini, seringkali menjadi andalan bagi peternak. Sedikit terlihat adanya peningkatan populasi lalat, peternak segera memberikan obat lalat. Namun, saat populasi lalat tidak menurun meski telah diberikan obat lalat, maka peternak akan langsung memberikan klaim maupun komplain ke produsen obat lalat tersebut. Kasus ini relatif sering terjadi. Lalu bagian manakah yang kurang tepat?

Point dasar yang perlu kita pahami bersama, bahwa pemberian obat lalat (kontrol kimiawi) bukan merupakan inti dari teknik pengendalian lalat, melainkan menjadi penyempurna dari teknik pengendalian lalat melalui teknik sanitasi dan desinfeksi kandang (teknik manajemen). Oleh karenanya, kita tidak bisa menggantungkan pembasmian lalat hanya dari pemberian obat lalat dan teknik pemberian obat lalat juga harus dilakukan dengan tepat.

Dari data yang kami peroleh, obat pembasmi lalat yang beredar di lapangan (Indonesia) dapat diklasifikasikan (berdasarkan kerja obat lalat pada tahapan siklus hidup lalat) menjadi 2 kelompok, yaitu obat lalat yang bekerja membunuh larva lalat dan membasmi lalat dewasa. Agar daya kerja obat lalat bisa optimal, maka pemilihan jenis obat harus disesuaikan dengan tahapan siklus hidup lalatnya. Jika tidak maka daya kerja obat tidak akan optimal. Cyromazine merupakan zat aktif yang digunakan untuk membunuh larva lalat sedangkan azamethiposdan cypermethrin merupakan zat aktif yang bekerja membunuh lalat dewasa. Penggunaan cyromazine untuk membasmi lalat dewasa tidak akan memberikan hasil yang optimal (lalat dewasa tidak bisa mati) dan begitu juga sebaliknya (pemberian cypermethrin tidak akan bisa membunuh larva lalat).

Perlu kita sadari bersama, keberadaan lalat di dalam kandang seperti fenomena gunung es. Lalat yang berkeliaran dan berterbangan di dalam kandang hanya 20% sedangkan lalat yang “tersembunyi” (telur, larva dan pupa) sesungguhnya jauh lebih banyak, yaitu 80%. Selain itu, pembasmian lalat dewasa akan menjadi lebih sulit karena mobilitas lalat yang tinggi dan kemampuan lalat untuk menghindar (mata majemuk). Oleh karena itu, pengendalian lalat sejak dini, yaitu saat stadium larva menjadi sebuah langkah teknik aplikatif yang bagus dalam membasmi keberadaan lalat.


sumber : http://info.medion.co.id dan dari berbagai sumber.

STANDAR BAKU MUTU KESEHATAN LINGKUNGAN UNTUK VEKTOR DAN BINATANG PEMBAWA PENYAKIT


STANDAR BAKU MUTU KESEHATAN LINGKUNGAN UNTUK VEKTOR 
DAN BINATANG PEMBAWA PENYAKIT

Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk Vektor adalah :
No
Vektor
Parameter
Satuan Ukur
Nilai Baku Mutu
1
Nyamuk Anophelessp.
MBR (Man bitting rate)
Angka gigitan nyamuk per orang per malam
<0,025
2
Larva Anopheles sp.
Indeks habitat
Persentase habitat perkembangbiakan yang positif larva
<1
3
Nyamuk Aedes aegypti dan/atau Aedes albopictus
Angka Istirahat (Resting rate)
Angka kepadatan nyamuk istirahat (resting) per jam
<0,025
4
Larva Aedes aegypti dan/ atau Aedes albopictus
ABJ (Angka Bebas Jentik)
Persentase rumah/ bangunan yang negatif larva
≥95
5
Nyamuk Culex sp.
MHD(Man Hour Density)
Angka  nyamuk yang hinggap per orang per jam
<1
6
Larva Culexsp.
Indeks habitat
Persentase habitat perkembangbiakan yang positif larva
<5
7
Mansonia sp.
MHD(Man Hour Density)
Angka nyamuk yang hinggap per orang per jam
<5
8
Pinjal
Indeks Pinjal Xenopsylla cheopis
Jumlah pinjal Xenopsylla cheopisdibagi dengan jumlah tikus yang diperiksa
<1
Indeks Pinjal Umum
Jumlah pinjal yang tertangkap dibagi dengan jumlah tikus yang diperiksa
<2
9
Lalat
Indeks Populasi Lalat
Angka rata-rata populasi lalat
<2
10
Kecoa
Indeks Populasi Kecoa
Angka rata-rata populasi kecoa
<2

Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk Binatang Pembawa Penyakit adalah :
No
Binatang Pembawa Penyakit
 Parameter
 Satuan Ukur
Nilai Baku Mutu
1
Tikus
Succes Trap
Persentase tikus yang tertangkap oleh perangkap
<1
2
Oncomelania  hupensis lindoensis
Indeks habitat
Jumlah keong dalam 10 meter persegi habitat
0

Sumber :
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR BAKU MUTU KESEHATAN LINGKUNGAN DAN PERSYARATAN KESEHATAN UNTUK VEKTOR DAN BINATANG PEMBAWA PENYAKIT  SERTA PENGENDALIANNYA