Showing posts with label Nyamuk. Show all posts
Showing posts with label Nyamuk. Show all posts

Jumping Spider dan Masa Depan Pengendalian Nyamuk (Peran Laba-laba Sebagai Agen Pengendalian Biologis)


Laba-laba merupakan salah satu komponen terpenting dari fauna predator yang sangat dikenal karena dapat selalu berhubungan dengan wabah populasi serangga. Laba-laba terkenal dengan jaringnya yang arsitektur dan potensinya sebagai agen bio-kontrol. Sejumlah penelitian telah menunjukkan spesies laba-laba itu biasanya mengkonsumsi nyamuk. Hal Ini dapat  menjadi peluang laba-laba sebagai agen pengendalian biologis dalam mengendalikan nyamuk yang menyebarkan penyakit seperti malaria, demam berdarah, dan chickungunya. 


A. Peran Laba Laba Sebagai Agen Pengendalian Biologis Nyamuk (Beberapa Kesimpulan Penelitian)

1. Dharmaraj, J., Gunasekaran, C., Rajkumar, V. and Paul, C.A., Spiders controlling mosquitoes (Aedes aegypti, Culex quinquefasciatus, Anopheles stephensi): A comprehensive research. International Journal of Mosquito Research 2020; 7(1): 51-55

Kesimpulan : 
Penelitian ini telah menunjukkan bahwa penggunaan laba-laba sebagai predator ekologis signifikan dalam membasmi nyamuk populasi. Manajemen populasi laba-laba bisa dimanfaatkan sebagai pengendalian tambahan terhadap nyamuk dewasa, hal ini diperlukan untuk mengurangi penularan penyakit yang dibawa nyamuk. Pertanyaannya adalah apakah memungkinkanan memanfaatkan laba-laba untuk keperluan biological control dalam skala luas, terutama di seluruh Asia. Karena itu ada kebutuhan untuk mengembangkan di berbagai skala, model, yang digabungkan untuk keberhasilan pengendalian biologis yang efektif terhadap nyamuk oleh laba-laba. Metode pemantauan yang efektivif untuk memecahkan masalah-masalah potensial sebelum dirilis perlu dikembangkan. 

Arachnolog (ahli laba laba) menyarankan laba-laba itu bisa menjadi lebih penting, jika memungkinkan menambah jumlah laba-laba. Ini hanya mungkin jika semua peneliti laba-laba dan ilmuwan penggemar berpartisipasi dan menerapkannya, tidak hanya pengelolaan hama terpadu. Penelitian ini menegaskan bahwa laba-laba itu bisa mengendalikan nyamuk.

2. Lawania, K.K., Trigunayat, K. and Trigunayat, M.M., 2013. Spiders in mosquito control. International Journal of Environmental Engineering and Management, 4(4), pp.331-338.

Kesimpulan :
Laba-Laba (Keluarga seperti Salticidae, Lycocidae, Areneidae, dan Tetragnathidae) dapat menjadi predator nyamuk yang efektif dan organisme vektor penyakit lainnya dan dapat mengerahkan kontrol secara top-down. Laba-laba menunjukkan kemampuan untuk menurunkan dan menstabilkan populasi nyamuk dan vektor penyakit lainnya, menjadikannya kandidat unggul dalam pengendalian vektor secara biologis.

3. Hadole, P. and Vankhede, G., 2012. Spiders for Eradication of vector borne diseases. Indian Journal of Arachnology, 1(2), pp.059-062.

Kesimpulan : 
Laba-laba dapat dipelihara: Ya, laba-laba dapat dipelihara dengan mudah di laboratorium dan peternakan dengan sukses. Setelah dibesarkan, mereka dapat dilepaskan seperti yang dimiliki Guppy. Keuntungannya adalah laba-laba memiliki tingkat kesuburan yang tinggi dan mudah untuk dipelihara, ditangani dan diangkut. Tidak ada resiko. Kami telah melakukan beberapa percobaan di lab kami untuk ini dan mereka sukses.

B. Jumping Spider (Salticidae)
1. Jumping spider dan keluarga besarnya

Laba-laba pelompat adalah anggota keluarga Salticidae, dan tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa reuni di antara anggota keluarga itu akan membutuhkan ruang yang cukup besar. Ada 646 genera yang masih ada dan fosil yang dikenali dan lebih dari 6.200 spesies laba-laba pelompat yang dijelaskan. Hal ini menjadikan laba-laba pelompat keluarga laba-laba terbesar di dunia. Selain jumlah mereka yang sangat banyak, laba-laba pelompat memiliki berbagai warna, bentuk, dan ukuran.

Laba-laba pelompat biasanya disalahartikan sebagai laba-laba janda hitam karena tubuhnya yang hitam kompak dengan kaki yang relatif pendek. Namun, laba-laba pelompat juga bisa berwarna coklat, cokelat, atau abu-abu dengan tanda putih pucat, abu-abu, kuning, merah, biru atau hijau. Ukuran laba-laba pelompat dewasa berkisar antara 1 / 8-3 / 4 ”(4-18 mm) dan biasanya ditutupi rambut lebat atau sisik yang berwarna cerah atau berwarna-warni. Kaki depan mereka biasanya lebih tebal dan agak lebih panjang dari kaki lainnya.

Laba-laba zebra dewasa memiliki tubuh berwarna abu-abu dengan tanda putih di bagian depan dan perutnya. Kakinya berwarna putih atau coklat dengan cincin abu-abu, menyerupai zebra. Laba-laba zebra betina berukuran 3 / 16-1 / 4 ”(4,3-6,4 mm), sedangkan jantan berukuran 1 / 8-1 / 4” (4-5,5 mm).

Secara umum, laba-laba pelompat memiliki penglihatan terbaik dari semua spesies laba-laba, mampu mendeteksi dan bereaksi terhadap gerakan hingga jarak 18" (45 cm). Namun, penglihatan malam mereka sangat buruk. Mereka memiliki delapan mata dalam tiga baris. Barisan depan memiliki empat mata dengan sepasang tengah yang sangat besar.

2. Mereka Ada Di Mana-Mana
 
Sumber : Foto koleksi pribadi

Laba laba pelompat hidup disemua habitat di dunia kecuali di daerah kutub yang ekstrim. Satu-satunya cara untuk menghindari laba-laba pelompat adalah pergi ke Arktik atau Antartika. Laba-laba pelompat kebanyakan tinggal di daerah tropis, tetapi mereka juga akan berkumpul di iklim yang lebih dingin. Pada tahun 1975, misalnya, seorang peneliti dari British Museum of Natural History menemukan laba-laba pelompat di lereng Gunung Everest.

3. Memiliki Kaki Super
Begitu mudah untuk berpikir bahwa makhluk mungil ini memiliki kaki yang sangat berotot karena kemampuannya untuk melompat hingga 50 kali panjang tubuhnya sendiri. Tapi bukan ini masalahnya. Laba-laba pelompat mengandalkan kaki yang tersegmentasi dan aliran darah untuk melakukan lompatan “gila” mereka. Ketika mereka siap untuk melompat, laba-laba menyebabkan perubahan ekstrim pada tekanan hemolimf (yang setara dengan tekanan darah) dengan mengontraksikan otot-otot di bagian atas tubuh mereka. Ini memaksa darah ke kaki mereka, dan menyebabkan kaki mereka memanjang dengan cepat. Perpanjangan kaki yang cepat dan tiba-tiba inilah yang mendorong mereka ke arah yang mereka tuju.

Tidak seperti kebanyakan laba-laba, laba-laba pelompat aktif pada siang hari dan lebih menyukai sinar matahari. Mereka adalah pemburu yang sangat baik, karena kemampuan melompat dan refleks yang cepat. Laba-laba pelompat dapat dengan cepat bergerak ke samping dan ke belakang untuk jarak pendek, dan menerkam mangsa yang lewat. Mereka menggunakan sutra sebagai dragline saat mereka melompat, dan dragline bertindak sebagai pengaman. Karena mereka dapat dengan mudah melompat dan menangkap mangsanya, mereka tidak perlu menggunakan jaringnya untuk berburu. Saat laba-laba pelompat menemukan target, mereka mengulurkan kaki dan meluncur dengan sangat cepat.

4. Rumahnya Jumping Spider

Laba-laba pelompat tidak membuat jaring jerat, tetapi membangun sarang jaring, yang ditenun secara longgar, seperti kantung dan terdiri dari beberapa amplop. Retret ini digunakan untuk molting, hibernasi, pengasingan malam hari dan bertelur. Kantung telur biasanya berbentuk lensa dan digantung seperti tempat tidur gantung dari dinding retret. Laba-laba pelompat hampir tidak mungkin menempati rumah, karena mereka lebih menyukai lingkungan luar ruangan dengan banyak vegetasi dan sinar matahari, seperti di padang rumput, dinding luar rumah, di sekitar jendela dan di sela sela dedaunan, kulit pohon, di bawah batu, di semak-semak, dan di sepanjang pagar dan geladak. Di luar ruangan mereka memakan bollworm, cacing daun kapas, cacing web, hopper kutu kapas, stinkbugs, wereng dan nyamuk. Kadang-kadang, laba-laba pelompat bisa masuk ke dalam ruangan melalui pakaian atau tanaman yang dibawa masuk.

Dalam beberapa kasus, laba-laba pelompat akan menggigit untuk bertahan, tetapi gigitannya tidak beracun. Dengan demikian, laba-laba pelompat tidak dianggap sebagai bahaya besar bagi manusia, terutama mengingat laba-laba ini lebih cenderung melarikan diri dari manusia daripada menyerang mereka. Laba-laba pelompat memang memiliki taring dan menghasilkan racun, tetapi racun tersebut bukanlah ancaman medis.

Contoh Laporan Pengendalian Vektor Embarkasi dan Debarkasi Haji Tahun 2019

PENGENDALIAN VEKTOR PADA MUSIM HAJI 

EMBARKASI DAN DEBARKASI  ACEH 2019





1. Pengendalian Vektor di Asrama Haji Banda Aceh

Pengendalian Vektor di Asrama Haji Banda Aceh pada saat Embarkasi dilakukan dengan beberapa kegiatan diantaranya :


a. Pengamatan dan pengendalian jentik nyamuk Aedes

   Pengamatan/survey dan pengendalian jentik nyamuk Aedes sudah mulai dilakukan pada saat pra embarkasi yaitu seminggu sebelum pelaksanaan embarkasi haji. Pengamatan dilakukan diseluruh bangunan di lingkungan Asrama Haji, di dalam maupun di luar bangunan dengan cara observasi pada seluruh tempat-tempat penampungan air; bak mandi, bak wc, drum, ember,  dispenser, kaleng bekas, botol bekas dll. Pengamatan dilakukan dengan melihat keberadaan jentik Aedes secara detail setiap container (tempat penampungan air) yang ditemukan. Hasil yang didapatkan diisi kedalam form pengamatan jentik Aedes sesuai SOP. Setelah selesai seluruh bangunan diperiksa baik di luar maupun di dalam bangunan kemudian dilakukan perhitungan tingkat kepadatan jentik Aedes. Setelah didapatkan hasil pengamatan dan dibuatkan dalam bentuk laporan hasil pengamatan jentik dan terakhir pembuatan surat rekomendasi tindak lanjut. 


b. Pengendalian nyamuk dewasa (Pengasapan/Fogging)


   Kegiatan Fogging (Pengasapan) ini dilakukan setelah terlebih dahulu dilakukan survey atau pengamatan jentik nyamuk dan survey nyamuk dewasa. setelah indeks kepadatan jentik didapatkan dan diketahui melebihi standar yang dibenarkan maka dilakukan upaya pengendalian nyamuk dengan pengasapan (fogging). Fogging ini diharapkan nyamuk infektif dewasa (vektor) dapat diputuskan mata rantainya sehingga tidak terjadi penularan penyakit dari dan oleh vektor dimaksud di wilayah pengendalian. 
     

c. Pengamatan dan pengendalian tikus

      Pengamatan dan pengendalian tikus, kegiatan ini dimulai dengan dilakukan pengamatan tanda tanda keberadaan tikus di seluruh ruangan/bangunan di asrama haji, terutama di tempat penginapan (Gedung Madinatul Hujjaj dan Muzdalifah) dan juga dapur asrama haji, setelah dilakukan pengamatan tanda tanda keberadaan tikus dan diketahui tempat tempat yang terdeteksi keberadaan tikus, kegiatan selanjutnya adalah dilakukan pemasangan perangkap tikus sebagai upaya pengendalian tikus di lingkungan asrama haji Banda Aceh. Dari hasil pengamatan awal dan tanya jawab dengan petugas room boy didapatkan bahwa di gedung Madinatul Hujjaj paling banyak terdapat tanda-tanda kehidupan tikus karena banyak taik tikus ditemukan di lantai, ada lobang dari sudut langit-langit (loteng) dan juga ada beberapa sofa yang lobang bekas gigitan tikus.
        Pengendalian tikus dengan pemasangan perangkap dilakukan di Gedung Asrama Jamaah Laki-Laki (Madinatul Hujjaj), Gedung Asrama Jamaah Perempuan (Muzdalifah) dan juga di Dapur Asrama Haji. Setelah dilakukan pemasangan perangkap 4 hari berturut-turut dan setiap malamnya dilakukan pemantauan perangkap untuk memastikan tikus yang tertangkap dan juga memastikan umpan yang digunakan harus diganti atau belum. Selama 4 hari pemasangan perangkap tidak ada tikus yang tertangkap. 





d. Pengamatan/survey nyamuk annopheles 

       Selain melakukan malakukan pengamatan jentik nyamuk Ae. aegypti juga dilakukan pengamatan/survey nyamuk Annopheles dewasa. Kegiatan ini dilakukan 1 minggu sebelum pelaksanaan Embarkasi Haji Banda Aceh. Kegiatan ini dilakukan mulai dari jam 18.00 s.d 24.00 dengan umpan badan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan dan densitas nyamuk Annopheles dewasa di wilayah perimeter Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas III Banda Aceh pada saat operasional haji yaitu di Embarkasi Haji Banda Aceh. Dari pengamatan yang dilakukan oleh 8 orang petugas selama waktu tersebut di atas tidak ditemukannya nyamuk Annopheles dewasa, baik yang landing di badan maupun yang resting di dinding (MBR dan MHD = nol). 

e. Pengamatan dan pengendalian lalat 

    Pengamatan lalat dilakukan dengan menggunakan alat survey fly grill dan dilakukan dilokasi Dapur dan di TPS (Tempat Pembuangan Sampah Sementara). Pengamatan Lalat ini dilakukan setiap hari selama pelaksanaan Embarkasi Haji Banda Aceh. Setiap hari hasil dari pengamatan lalat di evaluasi oleh petugas entomolog yang ditunjuk. Apabila hasil pengamatan lalat didapatkan density lalat lebih dari nilai ambang batas sesuai PMK No. 50 tahun 2017 maka langsung dilakukan pengendalian dengan menggunakan insektisida khusus untuk lalat. Selain penggunaan insektisida lalat ini juga dilakukan upaya pencegahan dari akses lalat dengan menggunakan tirai di pintu masuk dapur sehingga menghalangi lalat untuk dapat masuk ke dapur. Selain kegiatan secara fisik di atas juga dilakukan upaya pengendalian lalat dengan menggunakan kertas perekat lalat, kertas perekat lalat ini disediakan oleh pemenang katering dan dilakukan oleh petugas kesehatan lingkungan di perusahaan katering tersebut dibawah bimbingan petugas kesehatan pelabuhan kelas III Banda Aceh. 

2. Pengendalian Vektor di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda







           Sama halnya dengan rangkaian kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor di Asrama Haji Banda Aceh, kegiatan yang sama juga dilakukan di Bandara Internasional Iskandar Muda Blang Bintang Banda Aceh.
Kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor yang dilakukan di Bandara Internasional Iskandar Muda Blang Bintang Banda Aceh dapat disebutkan sebagai berikut:
- Pengamatan dan Pengendalian vektor penyebab DBD/Yellow Fever
- Pengamatan/survey nyamuk Annopheles 
- Pengamatan dan Pengendalian vektor lalat
- Pengamatan dan Pengendalian vektor tikus
- Pengamatan dan Pengendalian Vektor di dalam Pesawat (Disinseksi)

         Khusus untuk kegiatan terakhir (Disinseksi Pesawat) biasanya langsung dilakukan oleh awak kabin atau crew pesawat yang bersangkutan dan bukti pelaksanaanya diberikan/ditunjukkan kepada petugas Kantor Kesehatan Pelabuhan yang bertugas mengawasi vektor di pesawat tersebut. 

      Demikianlah rangkaian kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor yang dilakukan petugas KKP Kelas III Banda Aceh selama pelaksanaan kegiatan embarkasi dan debarkasi Haji tahun 2019. 

KUASA ALLAH



KUASA ALLAH
SERANGGA DALAM AL QURAN


NYAMUK DALAM AL QURAN


-Surat Al-Baqarah, Ayat 26


إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسۡتَحۡيِۦٓ أَن يَضۡرِبَ مَثَلٗا مَّا بَعُوضَةٗ فَمَا فَوۡقَهَاۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ فَيَعۡلَمُونَ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّهِمۡۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلٗاۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرٗا وَيَهۡدِي بِهِۦ كَثِيرٗاۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلۡفَٰسِقِينَ


(Bahasa Indonesia)
Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.


LALAT DALAM AL QURAN

-Surat Al-Hajj, Ayat 73

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ضُرِبَ مَثَلٞ فَٱسۡتَمِعُواْ لَهُۥٓۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ تَدۡعُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ لَن يَخۡلُقُواْ ذُبَابٗا وَلَوِ ٱجۡتَمَعُواْ لَهُۥۖ وَإِن يَسۡلُبۡهُمُ ٱلذُّبَابُ شَيۡـٔٗا لَّا يَسۡتَنقِذُوهُ مِنۡهُۚ ضَعُفَ ٱلطَّالِبُ وَٱلۡمَطۡلُوبُ

                                                           (Bahasa Indonesia)
Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalatpun, walaupun mereka bersatu menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.


RAYAP DALAM AL QURAN



-Surat Saba', Ayat 14


فَلَمَّا قَضَيۡنَا عَلَيۡهِ الۡمَوۡتَ مَا دَلَّهُمۡ عَلٰى مَوۡتِهٖۤ اِلَّا دَآ بَّةُ الۡاَرۡضِ تَاۡ كُلُ مِنۡسَاَتَهُ ۚ فَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الۡجِنُّ اَنۡ لَّوۡ كَانُوۡا يَعۡلَمُوۡنَ الۡغَيۡبَ مَا لَبِثُوۡا فِى الۡعَذَابِ الۡمُهِيۡنِ

                                                           (Bahasa Indonesia)
Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. 


LEBAH MADU DALAM AL QURAN



-Surat An-Nahl, Ayat 65

وَٱللَّهُ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَآۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَسۡمَعُونَ

(Bahasa Indonesia)
Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran).


-Surat An-Nahl, Ayat 69

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسۡلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلٗاۚ يَخۡرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٞ مُّخۡتَلِفٌ أَلۡوَٰنُهُۥ فِيهِ شِفَآءٞ لِّلنَّاسِۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَةٗ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ

(Bahasa Indonesia)
kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.

Contoh Laporan Survey Jentik Aedes sp

LAPORANSURVEY LARVA AEDES/SINGLE LARVA METHODEDI WILAYAH KERJA PELABUHAN LAUT NAMA LOKASITANGGAL 00 MARET 2019




      

1.  Data Petugas

           
Nama                                    :     A
NIP                                        :     B
Pangkat/Golongan                :     C
Jabatan                                 :     D

Nama                                    :     A
NIP                                        :     B
Pangkat/Golongan                :     C
Jabatan                                 :     D


2.      Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor penyebab penyakit DBD adalah :

1)        Untuk mengetahui jenis dan tempat perindukan yang menjadi sarang aedes aegypti baik indoor maupun outdoor di wilayah kerja pelabuhan laut NAMA LOKASI.
2)        Untuk mengetahui jumlah relative dari Breeding Place dan kepadatan larva di wilayah kerja Pelabuhan laut NAMA LOKASI
3)        Sebagai dasar tindakan untuk pengendalian dan rencana tindak lanjut lainnya.

3.     Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor penyebab penyakit DBD di daerah endemis atau terdapat kasus yang termasuk dalam area kerja Wilayah Kerja Pelabuhan Laut NAMA LOKASI

4.      Dasar Hukum

Sebagai pedoman dasar dari pelaksanaan kegiatan pengamatan vektor penyebab penyakit DBD sebagai berikut :

1)        Undang-Undang Nomor : 36/2009 tentang Kesehatan.
2)        Undang-Undang Nomor : 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan
3)        Kepmenkes RI Nomor : 431/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Teknis Risiko Lingkungan di Pelabuhan/Bandara/Pos Lintas Batas Darat.
4)        Undang-Undang Nomor : 4/1984 tentang Wabah
5)        International Health Regulation 2005.


LOKASI DAN WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN

a.      Lokasi Kegiatan
Kegiatan pengamatan vektor penyebab penyakit DBD dilakukan pada are perimeter dan area Buffer pelabuhan laut NAMA LOKASI

b.     Waktu Pelaksanaan
Kegiatan pengamatan vektor penyebab penyakit DBD dilaksanakan pada tanggal 0 Maret 2019 selama 1 (satu) hari.


TUGAS YANG HARUS DILAKSANAKAN

Untuk kegiatan pengamatan vektor penyebab penyakit DBD, peralatan dan bahan harus disiapkan seperti :

1)        Cidukan
2)        Pipet
3)        Senter
4)        Botol vial
5)        Kaca pembesar
6)        Formulir pengamatan
7)        Alat tulis dan papan survey

Prosedur kerja :
a.  Pemeriksaan tempat-tempat yang diduga dijadikan sebagai tempat perindukan baik yang alamiah maupun buatan.
b.   Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan senter, jika tempat gelap atau didalam bangunan.
c. Jika ditemukan jentik, pengambilan dilakukan dengan menggunakan pipet jika air sedikit, dan menggunakan cidukan apabila volume air banyak.
d.   Kemudian, jentik dimasukkan kedalam botol dan diberi tanda (penomoran)
e.   Dihitung dan dicatat, dan dilakukan proses identifikasi jika diperlukan.

5.  HASIL YANG DICAPAI

Area Perimeter
Jumlah bangunan yang diperiksa (HI) = 5, jumlah bangunan positif jentik (H+) =2 , jumlah container terperiksa (C) = 29, dan jumlah container positif jentik (C+) = 2.

HI        =    2/5) x 100%           = 0,4%
CI        =    (2/29) x 100%       = 0,06%
BI         =
Area Buffer
Jumlah bangunan yang diperiksa (HI) = 5, jumlah bangunan positif jentik (H+) = 3, jumlah container terperiksa (C) = 23, dan jumlah container positif jentik (C+) = 3.

HI        =    3/5) x 100%           = 0,6%
CI        =    (3/23) x 100%       = 0,13%
BI         =

Hasil Identifikasi
-           Adanya siphon pada segmen terakhir.
-           Pada siphon terdapat sepasang rambut dan jumbai
-           Pada segmen abdomen tidak dijumpai rambut berbentuk kipas (palmate hair)
-           Siphon dilengkapi dengan pectin

KESIMPULAN DAN SARAN

1.        Kesimpulan

1)        Jumlah total bangunan yang diperiksa (HI) = 10 bangunan, (5 perimeter dan 5 buffer) dan total container diperiksa (C) = 52 container ( Pr=29 dan Bf = 23)
2)        Bangunan positif jentik (H+)= 2 bangunan dan container positif jentik (C+) = 3 container
3)        Angka indek area Perimeter berturut-turut HI = 0,4% dan CI = 0,06%
4)        Angka Indek area Buffer berturut-turut HI = 0,6% dan CI = 0,13%
5)        Hasil identifikasi jentik larva dari nyamuk aedes albopictus
6)        Area perimeter dan buffer memiliki angka penularan sangat kecil/rendah.

2.        Saran

1)       Perlu pengamatan rutin dan berkala terhadap tempat-tempat perkembang biakan nyamuk.
2)      Perlu pengawasan secara ketat pada musim-musim kemarau dan memasuki musim hujan, terutama pada awal tahun dan akhir musim.
3)     Sebagai dasar rencana tindak lanjut kegiatan.
4)   Ban-ban bekas mobil sebaiknya jangan di tumpuk di tempat terbuka karena akan jadi perkembangbiakan nyamuk waktu musim hujan.


         Demikian laporan ini kami buat, agar dapat dipergunakan seperlunya atas kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.



NAMA LOKASI,      Maret  2019

Pelaksana Kegiatan   : 


A                                                                                                                    
NIP                                                                                                      (......................................)

                                                                                                                                               
B                                                                                                                    
NIP                                                                                                      (......................................)



Baca Juga Laporan Contoh Laporan Vektor secara umum :

https://www.entomologikesehatan.com/2018/08/contoh-laporan-pengendalian-vektor.html

                               



Yellow Fever


YELLOW FEVER/ DEMAM KUNING/ YELLOW JACK






Definisi

Adalah sebuah penyakit sistematik yang disebabkan oleh flavivirus


Vektor Penular

Nyamuk Aedes aegypti dan nyamuk Haemagosus merupakan vektor utama yang berperan dalam penularan penyakit yellow fever dan jenis nyamuk lainnya. 



3 Jenis Penularan Yellow Fever


1. Yellow fever sylvatic, terjadi penularan di hutan hujan tropis, virus dapat ditularkan oleh nyamuk yang menggigit monyet yang mengandung flavivirus.
Vektor infekif ini kemudian menggigit manusia yang memasuki hutan yang mengakibatkan kasus sporadis yellow fever. Biasanya terjadi pada pria yang bekerja di hutan.

2. Yellow fever menengah, terjadi di wilayah lembab atau semi-lembab di Afrika. Nyamuk semi domestik (nyamuk yang berkembang biak di alam liar dan sekitar rumah tangga) mampu menginfeksi baik monyet maupun manusia.

Peningkatan kontak antara manusia dan nyamuk yang terinfeksi menyebabkan transmisi sehingga dapat terjadi epidemi dalam skala kecil. Siklus ini merupakan kasus yang sering menjadi wabah di Afrika. Wabah akan menjadi epidemi yang lebih parah apabila infeksi terjadi pada daerah yang memiliki banyak nyamuk domestik dan orang-orang yang tidak divaksinasi.

3. Ketiga, yellow fever perkotaan, epidemi besar terjadi ketika orang yang terinfeksi masuk ke wilayah padat penduduk dengan tingginya jumlah orang yang tidak divaksinasi dan tingginya jumlah nyamuk Aedes. Nyamuk yang terinfeksi dapat menularkan virus dari manusia ke manusia.



Populasi Berisiko

47 negara endemik yellow fever, 34 negara di Afrika dan 13 di Amerika. Sebuah studi sumber data di Afrika memperkirakan kasus yellow fever selama 2013 adalah 84.000-170.000 kasus parah dan 29.000-60.000 kematian. Kadang-kadang wisatawan yang mengunjungi negara-negara endemik yellow fever dapat membawa penyakit ini ke negara-negara bebas dari yellow fever. Untuk mencegah impor penyakit seperti itu, banyak negara memerlukan bukti vaksinasi terhadap yellow fever sebelum mereka akan mengeluarkan visa, terutama jika pelancong datang, atau telah mengunjungi daerah endemik yellow fever. Pada abad-abad yang lalu (17-19), yellow fever diangkut ke Amerika Utara dan Eropa, menyebabkan wabah besar yang mengganggu ekonomi dan pembangunan. Siapa pun yang akan melakukan perjalanan ke daerah endemis yellow fever seharusnya sudah mendapatkan vaksinasi tersebut. 



Gejala Yellow Fever

Penyakit ini dapat menyebabkan berbagai gejala klinis seperti demam, mual, nyeri dan dapat berlanjut ke fase beracun/toksik yang terjadi setelah itu, ditandai dengan kerusakan hati dengan jaundis/ikterik atau kulit menjadi berwarna kuning, gagal ginjal, meningitis dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian. Kata yellow/kuning diambil dari keadaan beberapa pasiennya yang menjadi jaundis/ikterik yaitu perubahan warna pada kulit dan selaput lendir yang menjadi kuning, sedangkan pada bagian konjungtiva mata berwarna merah. Karena penyakit ini menyebabkan kecenderungan pendarahan yang meningkat (diatesis pendarahan), yellow fever termasuk dalam kelompok demam haemorhagik atau kelompok demam berdarah. Pada penderita yellow fever juga dapat terjadi perdarahan antara lain melalui mulut, hidung, gusi, maupun BAB (melena). Masa inkubasi yellow fever 3 6 hari. Secara umum angka kematiannya sekitar 5 %, tetapi dapat mencapai 20% - 40% pada wabah tertentu. Penyakit yellow fever memiliki gejala awal demam akut yang diikuti ikterus dalam waktu dua minggu disertai dengan salah satu atau lebih dari gejala berupa pendarahan dari hidung, gusi, kulit, atau saluran pencernaan.


Diagnosa

Yellow fever sulit untuk didiagnosis, terutama pada tahap awal. Kasus yang lebih parah dapat dikacaukan dengan malaria berat, leptospirosis, virus hepatitis (terutama bentuk fulminan), demam berdarah lainnya, infeksi dengan flavivirus lain (seperti demam berdarah dengue), dan keracunan.

Tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam darah dan urin kadang-kadang dapat mendeteksi virus pada tahap awal penyakit. Pada tahap selanjutnya, pengujian untuk mengidentifikasi antibodi diperlukan (ELISA dan PRNT).


Pengobatan

Perawatan suportif yang baik dan dini di rumah sakit meningkatkan tingkat kelangsungan hidup. Saat ini tidak ada obat anti-virus khusus untuk yellow fever tetapi perawatan khusus untuk mengobati dehidrasi, gagal hati dan ginjal, dan demam meningkatkan hasil. Infeksi bakteri terkait dapat diobati dengan antibiotik.



Pencegahan


1. Vaksinasi

Vaksin yellow fever aman, terjangkau dan satu dosis memberikan perlindungan seumur hidup terhadap penyakit yellow fever. Dosis booster vaksin yellow fever tidak diperlukan.

Beberapa strategi vaksinasi digunakan untuk mencegah penularan dan penyakit yellow fever: imunisasi bayi rutin; kampanye vaksinasi massal yang dirancang untuk meningkatkan cakupan di negara-negara yang berisiko; dan vaksinasi wisatawan yang pergi ke daerah endemik yellow fever.

Di daerah berisiko tinggi di mana cakupan vaksinasi rendah, pengakuan dan pengendalian wabah yang cepat menggunakan imunisasi massal sangat penting. Penting untuk memvaksinasi sebagian besar (80% atau lebih) dari populasi yang berisiko untuk mencegah penularan di suatu daerah dengan wabah yellow fever.


Vaksinasi tidak termasuk :

a. Bayi berusia kurang dari 9 bulan;

b. Wanita hamil - kecuali selama wabah yellow fever ketika risiko infeksi tinggi;

c. Orang dengan alergi parah terhadap protein telur; dan

d. Orang dengan defisiensi imun yang parah karena gejala HIV / AIDS atau penyebab lain, atau yang memiliki kelainan timus.

Sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional (IHR), negara-negara memiliki hak untuk meminta wisatawan untuk memberikan sertifikat vaksinasi yellow fever. Jika ada alasan medis untuk tidak divaksinasi, ini harus disertifikasi oleh otoritas yang sesuai. IHR adalah kerangka kerja yang mengikat secara hukum untuk menghentikan penyebaran penyakit menular dan ancaman kesehatan lainnya. Mewajibkan sertifikat vaksinasi dari para pelancong adalah atas kebijaksanaan masing-masing Negara Pihak, dan saat ini tidak diwajibkan oleh semua negara. Indonesia pihak otoritas untuk melakukan vaksinasi yellow fever adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan.


2. Vektor Kontrol

Risiko penularan yellow fever di daerah perkotaan dapat dikurangi dengan menghilangkan potensi tempat pengembangbiakan nyamuk, termasuk dengan menerapkan larvisida ke wadah penyimpanan air dan tempat-tempat lain di mana genangan air terkumpul.

Pengawasan dan pengendalian vektor adalah komponen pencegahan dan pengendalian penyakit yang ditularkan melalui vektor, terutama untuk pengendalian penularan dalam situasi epidemi. Untuk yellow fever, surveilans vektor yang menargetkan Aedes aegypti dan spesies Aedes lainnya akan membantu memberi informasi di mana ada risiko wabah perkotaan.

Memahami distribusi nyamuk ini di suatu negara dapat memungkinkan suatu negara memprioritaskan wilayah untuk memperkuat pengawasan dan pengujian penyakit manusia mereka, dan mempertimbangkan kegiatan pengendalian vektor. Saat ini ada gudang kesehatan masyarakat terbatas insektisida yang aman, efisien dan hemat biaya yang dapat digunakan terhadap vektor dewasa. Hal ini terutama disebabkan oleh resistensi vektor utama terhadap insektisida umum dan penarikan atau pengabaian pestisida tertentu dengan alasan keamanan atau tingginya biaya pendaftaran ulang.

Secara historis, kampanye pengendalian nyamuk berhasil menghilangkan Aedes aegypti, vektor yellow fever perkotaan, dari sebagian besar di Amerika Tengah dan Selatan. Namun, Aedes aegypti telah menjajah kembali wilayah perkotaan di wilayah tersebut, meningkatkan risiko baru yellow fever perkotaan. Program pengendalian nyamuk yang menargetkan nyamuk liar di daerah berhutan tidak praktis untuk mencegah penularan yellow fever hutan (sylvatic).

Tindakan pencegahan pribadi seperti pakaian meminimalkan paparan kulit dan penolak direkomendasikan untuk menghindari gigitan nyamuk. Penggunaan kelambu berinsektisida dibatasi oleh fakta bahwa nyamuk Aedes menggigit pada siang hari.


APABILA ADA KASUS YELLOW FEVER Secepatnya laporkan kepada Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dengan tembusan Posko KLB dalam waktu 1 x 24 jam melalui surat elektronik:


poskoklb@kemkes.go.id

Telepon 021-4257125, 021-42877588

Whatsapp ; 087806783906


Sumber : WHO dan Kementerian Kesehatan