Showing posts with label Zoonosis. Show all posts
Showing posts with label Zoonosis. Show all posts

PENGENDALIAN LALAT DI KANDANG AYAM



PENGENDALIAN LALAT DI PETERNAKAN AYAM



Proses Penyebaran Penyakit dan Masalah Sosial Karena Lalat

Larva dan lalat dewasa menjadi hospes intermediet atau inang perantara bagi infeksi cacing pita (Raillietina tetragona dan R. cesticillus) pada ayam. Larva dan lalat dewasa sering kali termakan oleh ayam sehingga ayam dapat terserang cacing pita tersebut. Selain itu, lalat juga berperan sebagai vektor mekanik bagi cacing gilik (Ascaridia galli) maupun bakteri. Lalat yang hinggap di feses atau litter yang telah tercemar bakteri kolera maka lalat tersebut sudah berpotensi menyebarkan kolera pada ayam lainnya. 

Selain penyakit, keberadaan lalat juga menjadi penyebab keretakan keharmonisan hubungan sosial antara peternak dengan warga di sekitar lokasi peternakan. Bukan suatu keniscayaan, keberadaan lalat ini menjadi penyebab ditutupnya suatu peternakan. Lalat yang berkembang di peternakan dapat bermigrasi ke arah perkampungan warga dan warga atau masyarakat langsung melayangkan tuduhan bahwa peternakan ayam lah yang menjadi sumber munculnya lalat tersebut. 

Bagaimana Pengendalian Lalat ?

Setelah mengetahui akibat berkembangnya lalat di peternakan kita, sudah merupakan suatu kebutuhan bahwa kita harus bisa mengendalikan lalat tersebut. Sudah barang tentu, pengendalian lalat ini membutuhkan teknik yang tepat. Jika tidak, bukan tidak mungkin gara-gara lalat ini kita akan mengalami kerugian yang besar bahkan ditutupnya usaha kita. Lalat tergolong salah satu insect atau serangga yang “bandel”. Keberadaannya di kandang sangat mudah ditemui, terlebih lagi saat musim penghujan. Beberapa hal yang menjadikan lalat bandel, ialah: 

  1. Mobilitas lalat sangat tinggi karena dilengkapi dengan sepasang sayap sejati (asli) dan sepasang sayap kecil (yang menstabilkan terbang lalat) 
  2. Lalat mempunyai sistem penglihatan yang sangat baik, yaitu mata majemuk yang tersusun atas lensa optik yang sangat banyak sehingga lalat mempunyai sudut pandang yang lebar. Kepekaan penglihatan lalat ini 6 x lebih besar dibandingkan manusia. Selain itu, lalat juga dapat mengindra frekuensi-frekuensi ultraviolet pada spetrum cahaya yang tak terlihat oleh manusia. Dengan dua kemampuan ini (mobilitas dan penglihatan), lalat dapat dengan mudah mengubah arah geraknya seketika saat ada bahaya yang mengancam dirinya. 
  3. Lalat mempunyai kemampuan berkembang biak yang cepat dan dalam jumlah yang banyak. Terlebih lagi jika kondisi lingkungan cocok bagi perkembangbiakan lalat. Melihat ketiga kemampuan lalat tersebut, maka diperlukan teknik khusus untuk mengatasi atau membasmi lalat. Langkah pengendalian lalat pun harus dilakukan secara komprehensif (menyeluruh) dan terintegrasi. Langkah pengendalian lalat secara garis besar ialah kontrol manajemen, biologi, mekanik dan kimia. 

Kontrol manajemen


Penanganan feses dengan baik sehingga feses tetap kering merupakan teknik pengendalian lalat yang paling efektif. Kita tahu, feses yang lembab menjadi tempat perkembangbiakan lalat yang sangat baik (termasuk tempat perkembangbiakan bibit penyakit). Dalam 0,45 kg feses yang lembab dapat dijadikan tempat berkembang biak (melangsungkan siklus hidup) 1.000 ekor lalat. Feses yang baru dikeluarkan oleh ayam yang memiliki kadar air sebesar 75-80% merupakan kondisi ideal bagi perkembangbiakan lalat. Feses ini harus segera diturunkan kadar airnya menjadi 30% atau kurang untuk mencegah perkembangbiakan lalat. Lakukan pembersihan feses minimal 1 x seminggu sehingga dapat memutus siklus perkembangbiakan lalat. Hal ini berdasarkan periode waktu lalat bertelur, yaitu setiap minggu (4-7 hari). 


Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghambat perkembangbiakan lalat ialah:
  1. Membersihkan feses minimal setiap minggu sekali. Hal ini berdasarkan lama siklus hidup lalat, dimana lalat bertelur setiap seminggu sekali 
  2. Berikan ransum dengan kandungan zat nutrisi yang sesuai, terutama kandungan protein kasar dan garam. Ransum dengan kandungan protein kasar dan garam yang tinggi dapat memicu ayam minum banyak sehingga feses menjadi encer (basah) 
  3. Jika perlu tambahkan batu kapur maupun abu pada litter sehingga dapat membantu mengembalikan kemampuan tanah menyerap air 
  4. Hati-hati saat penggantian atau pengisian tempat minum. Jangan sampai air minum tumpah. Selain itu perhatikan kondisi tempat minum atau paralon dan segera perbaiki kondisi genting yang bocor 
  5. Jika feses akan disimpan, keringkan feses terlebih dahulu (kadar air < 30%) dengan cara dijemur diterik matahari (jika memungkinkan). Feses yang disimpan dalam kondisi lembab bisa mempercepat perkembangbiakan larva lalat 
  6. Perhatikan sistem sirkulasi udara (ventilasi). Kondisi ventilasi kandang yang baik dapat mempercepat proses pengeringan feses 
  7. Lakukan perbaikan pada atap yang bocor 
  8. Pastikan intalasi saluran pembuangan air berfungsi baik, jangan biarkan air mengendap 

Selain menjaga feses tetap kering, melakukan sanitasi kandang dengan baik juga menjadi langkah tepat untuk mengendalikan perkembangbiakan lalat. Langkah sanitasi yang dapat dilakukan yaitu :
  1. Segera buang atau singkirkan bangkai ayam mati maupun telur yang pecah
  2. Segera singkirkan atau jauhkan bangkai (ayam mati) dari kandang
  3. Bersihkan ransum dan feses yang tumpah segera, terlebih lagi jika kondisinya basah
  4. Bersihkan kandang dan peralatan kandang secara rutin kemudian semprot dengan desinfektan seperti Antisep, Neo Antisep atau Medisep

Kontrol biologi

Terdengar asing ditelinga kita dengan istilah ini. Memang, karena teknik ini relatif jarang diaplikasikan peternak. Meskipun demikian, teknik ini terbukti ampuh dalam mengendalikan populasi lalat. Terbukti, dari sepasang lalat dalam waktu 3-4 hari tidak bisa menghasilkan lalat sebanyak 191,01 x 1018 ekor karena secara alami larva lalat telah dibasmi oleh “lawan” lalat. Selain itu, penggunaan teknik ini akan menjaga keseimbangan ekosistem kandang.

Parasit lalat biasanya membunuh lalat pada saat fase larva dan pupa. Spalangia nigroaenea merupakan sejenis tawon (lebah penyengat) yang menjadi parasit bagi pupa lalat. Mekanismenya ialah tawon dewasa bertelur pada pupa lalat, yaitu dibagian puparium(selubung pupa) dan perkembangan dari telur tawon memangsa pupa lalat (pupa lalat mati). Selain tawon, tungau (Macrochelis muscaedomesticae dan Fuscuropoda vegetans) dan kumbang (Carnicops pumilio, Gnathoncus nanus) juga merupakan “lawan” lalat.

Aplikasi dari teknik pengendalian lalat ini memerlukan suatu menajemen yang relatif sulit. Siklus hidup hewan pemangsa lalat tersebut juga relatif lebih lama. Selain itu, hewan pemangsa lalat ini dapat juga menjadi agen penularan penyakit. Meskipun demikian, keseimbangan ekosistem akan tetap terjaga, terlebih lagi keberadaan lalat di kandang juga membantu dalam proses dekomposisi (penguraian) feses atau sampah organik lainnya sehingga baik jika digunakan sebagai pupuk kompos.


Kontrol mekanik

Teknik pengendalian lalat ini relatif banyak diaplikasikan oleh masyarakat pada umumnya. Di pasaran, juga telah banyak dijual perangkat alat untuk membasmi lalat, biasanya disebut sebagai perangkap lalat. Perangkap tersebut bekerja secara elektrikal (aliran arus listrik) dan dilengkapi dengan bahan yang dapat menarik perhatian lalat untuk mendekat. Perangkap lalat seringkali diletakkan di tengah kandang. Di tempat penyimpanan telur sebaiknya juga diletakkan perangkap lalat ini.


Lalat tidak akan bergerak atau terbang melawan arus atau arah angin. Oleh karenanya tempatkan fan atau kipas angin dengan arah aliran angin keluar kandang atau ke arah pintu kandang. Penggunaan plastik yang berisi air (biasanya di warung makan) juga bisa digunakan untuk mengusir lalat meskipun mekanisme kerjanya belum diketahui. Teknik pengendalian lalat ini (kontrol mekanik) relatif kurang efektif untuk diaplikasikan ji-ka populasi lalat banyak.

Kontrol kimiawi

Teknik pengendalian lalat ini, seringkali menjadi andalan bagi peternak. Sedikit terlihat adanya peningkatan populasi lalat, peternak segera memberikan obat lalat. Namun, saat populasi lalat tidak menurun meski telah diberikan obat lalat, maka peternak akan langsung memberikan klaim maupun komplain ke produsen obat lalat tersebut. Kasus ini relatif sering terjadi. Lalu bagian manakah yang kurang tepat?

Point dasar yang perlu kita pahami bersama, bahwa pemberian obat lalat (kontrol kimiawi) bukan merupakan inti dari teknik pengendalian lalat, melainkan menjadi penyempurna dari teknik pengendalian lalat melalui teknik sanitasi dan desinfeksi kandang (teknik manajemen). Oleh karenanya, kita tidak bisa menggantungkan pembasmian lalat hanya dari pemberian obat lalat dan teknik pemberian obat lalat juga harus dilakukan dengan tepat.

Dari data yang kami peroleh, obat pembasmi lalat yang beredar di lapangan (Indonesia) dapat diklasifikasikan (berdasarkan kerja obat lalat pada tahapan siklus hidup lalat) menjadi 2 kelompok, yaitu obat lalat yang bekerja membunuh larva lalat dan membasmi lalat dewasa. Agar daya kerja obat lalat bisa optimal, maka pemilihan jenis obat harus disesuaikan dengan tahapan siklus hidup lalatnya. Jika tidak maka daya kerja obat tidak akan optimal. Cyromazine merupakan zat aktif yang digunakan untuk membunuh larva lalat sedangkan azamethiposdan cypermethrin merupakan zat aktif yang bekerja membunuh lalat dewasa. Penggunaan cyromazine untuk membasmi lalat dewasa tidak akan memberikan hasil yang optimal (lalat dewasa tidak bisa mati) dan begitu juga sebaliknya (pemberian cypermethrin tidak akan bisa membunuh larva lalat).

Perlu kita sadari bersama, keberadaan lalat di dalam kandang seperti fenomena gunung es. Lalat yang berkeliaran dan berterbangan di dalam kandang hanya 20% sedangkan lalat yang “tersembunyi” (telur, larva dan pupa) sesungguhnya jauh lebih banyak, yaitu 80%. Selain itu, pembasmian lalat dewasa akan menjadi lebih sulit karena mobilitas lalat yang tinggi dan kemampuan lalat untuk menghindar (mata majemuk). Oleh karena itu, pengendalian lalat sejak dini, yaitu saat stadium larva menjadi sebuah langkah teknik aplikatif yang bagus dalam membasmi keberadaan lalat.


sumber : http://info.medion.co.id dan dari berbagai sumber.

STANDAR BAKU MUTU KESEHATAN LINGKUNGAN UNTUK VEKTOR DAN BINATANG PEMBAWA PENYAKIT


STANDAR BAKU MUTU KESEHATAN LINGKUNGAN UNTUK VEKTOR 
DAN BINATANG PEMBAWA PENYAKIT

Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk Vektor adalah :
No
Vektor
Parameter
Satuan Ukur
Nilai Baku Mutu
1
Nyamuk Anophelessp.
MBR (Man bitting rate)
Angka gigitan nyamuk per orang per malam
<0,025
2
Larva Anopheles sp.
Indeks habitat
Persentase habitat perkembangbiakan yang positif larva
<1
3
Nyamuk Aedes aegypti dan/atau Aedes albopictus
Angka Istirahat (Resting rate)
Angka kepadatan nyamuk istirahat (resting) per jam
<0,025
4
Larva Aedes aegypti dan/ atau Aedes albopictus
ABJ (Angka Bebas Jentik)
Persentase rumah/ bangunan yang negatif larva
≥95
5
Nyamuk Culex sp.
MHD(Man Hour Density)
Angka  nyamuk yang hinggap per orang per jam
<1
6
Larva Culexsp.
Indeks habitat
Persentase habitat perkembangbiakan yang positif larva
<5
7
Mansonia sp.
MHD(Man Hour Density)
Angka nyamuk yang hinggap per orang per jam
<5
8
Pinjal
Indeks Pinjal Xenopsylla cheopis
Jumlah pinjal Xenopsylla cheopisdibagi dengan jumlah tikus yang diperiksa
<1
Indeks Pinjal Umum
Jumlah pinjal yang tertangkap dibagi dengan jumlah tikus yang diperiksa
<2
9
Lalat
Indeks Populasi Lalat
Angka rata-rata populasi lalat
<2
10
Kecoa
Indeks Populasi Kecoa
Angka rata-rata populasi kecoa
<2

Standar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan untuk Binatang Pembawa Penyakit adalah :
No
Binatang Pembawa Penyakit
 Parameter
 Satuan Ukur
Nilai Baku Mutu
1
Tikus
Succes Trap
Persentase tikus yang tertangkap oleh perangkap
<1
2
Oncomelania  hupensis lindoensis
Indeks habitat
Jumlah keong dalam 10 meter persegi habitat
0

Sumber :
PERATURAN MENTERI KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 50 TAHUN 2017 TENTANG STANDAR BAKU MUTU KESEHATAN LINGKUNGAN DAN PERSYARATAN KESEHATAN UNTUK VEKTOR DAN BINATANG PEMBAWA PENYAKIT  SERTA PENGENDALIANNYA

FUMIGASI

FUMIGASI KAPAL LAUT
(DERATISASI)



DASAR HUKUM

n   UU No.1 tahun 1962 ttg Karantina Laut
n  UU No.4/84 ttg Wabah Penyakit Menular
n  UU No.36 tahun 2009 ttg Kesehatan
n  UU NO 17 tahun 2008 ttg Pelayaran
n  International Health Regulation 2005 revisi
n  Permenkes 2348/2011 pengganti No.356 tahun 2008 ttg Organisasi & Tata Kerja  Kantor Kesehatan Pelabuhan
n   Permenkes No. 34 tahun 2013 ttg Penyelenggaraan Tindakan Hapus Tikus dan Hapus Serangga di Pelabuhan, Bandara, PLBD

PENGERTIAN
Ò  Deratisasi adalah suatu upaya yang dilakukan untuk membebaskan alat angkut dari investasi rodent/tikus
Ò  Fumigasi Adalah suatu tindakan perlakuan (atau pengobatan) terhadap suatu komoditi/ space dengan menggunakan fumigant tertentu, didalam ruang kedap udara, pada suhu dan tekanan tertentu.
Ò  Fumigan Adalah suatu jenis pestisida (obat pembasmi hama) yang dalam suhu dan tekanan tertentu berbentuk gas, dan dalam konsentrasi serta waktu tertentu dapat membunuh hama (organisme pengganggu).

TATALAKSANA PENYEHATAN  KAPAL
1.       Bila Alat angkut datang dari negara terjangkit penyakit menular.
2.       Bila dari hasil pemeriksaan alat angkut ditemukan adanya faktor risiko
3.       Atas permintaan Nahkoda/pemilik kapal



ALAT DAN BAHAN FUMIGASI

NO
JENIS PERALATAN/ BAHAN
KEBUTUHAN
1
Bahan Fumigant
Sesuai dengan perkiraan ruangan yang di  akan gas
2
Gas Masker
Sesuai jumlah fumigator
3
Canester
Jenis sesuai dengan bahan fumigasnt Jumlah sesuai fumigator
4
Opener ( khusus gas HCN )
Sesuai jumlah kelompok
5
Sarung tangan
Sesuai jumlah fumigator
6
Detector
Minimal 1 buah
7
Tube detector
Jenis sesuai fumigant yang digunakan jumlah 3X detector
8
Kertas Perekat
Sesuaikan dengan kebutuhan
9
Lem
Sesuaikan dengan kebutuhan
10
Gunting/pisau
Minimal 1 buah
11
Alat tanda bahaya
Minimal 1 buah
12
Senter
Sesuai dengan jumlah kelompok
13
Alat pemadam kebakaran
Sesuai dengan jumlah kelompok
14
Kipas angin ( untuk kapal yang tidak berfentilasi )
Sesuai kebutuhan
15
Megaphone
1 buah
16
Kuas
Sesuai dengan jumlah penempel
17
Kain lap / majun
Sesuai kebutuhan
18
Pakaian kerja
Sesuai jumlah petugas
19
Obeng besar
Sesuan jumlah kelompok
20
Kunci Inggris
Sesuai jumlah tabung CH3Br
21
Tali temali
Sesuai kebutuhan
22
Selang kecil 1”
Sesuai kebutuhan
23
Kotak /tas P3K berisi :

- Amilnitrite
12 ampul
- Natrium nitrite    ( 10 cc –3% larutan )
2 ampul
- Natrium thiosulfate ( 50 cc ---25 % larutan )
2 ampul
- Spuit steril 50 cc dan jarum
1 bh
- Spuit steril 10 cc dan jarum
1 bh
- Selimut
Minimal 2 bh
- Pinset anatomis
1 bh
- Kapas / kasa steril
1 dos
- Alcohol 70%
100 cc
- Verban gulung 4”
1 Dos
- Gunting
Minimal 2 bh
 - Tensoplas
1 gulung
24
Boat ( khusus fumigasi di luar dam)
1 bh
25
Ambulan siaga disekitar area fumigasi
1 bh
26
P3K Kit Fumigasi CH3Br

1).Resusitator lengkap dengan tabung oksigen
1 set
2). Larutan garam isotonis ( Na CL 09%) atau ringer laktat.
3). Larutan Glukosa 5%

4). Disposibel syrinye dengan jarum

5). Natrium Bikarbonat 5%

6). Infus set
                              Seperlunya
7). Indotraceal Tube



CARA MENGGUNAKAN FUMIGANT

HCN ( Hidogen Cyanida ),
q setelah melakukan perhitungan jumlah volume kapal yang akan di gas, kemudian lakukan penempelan dan mengupayakan ruangan yang akan di gas kedap udara,
q Selanjutnya kapal di black out/ dipadamkan mesinnya, petugas pelempar gas ( Fumigator ) dengan menggunakan APD (alat pelindung diri khusus ) melakukan penyebaran HCN, yang berbentuk lempengan atau granule, ke bagian ruangan-ruangan secara merata.
q setelah 2 – 3 jam kemudian lakukan pembebasan gas, fumigator dengan APDnya melakukan pembukaan seal-seal kapal dan dibantu dengan blower kapal untuk mempercepat pengeluaran gas selama kurang lebih 1-2 jam.
q Perhatian gas HCN Sangat mematikan hanya yang menggunakan masker dan canister yang masíh baik yang boleh mendekati kapal yang sedang di fumigasi


 CH3Br ( Mathyl Bromida )
  • Ò setelah melakukan perhitungan jumlah volume kapal yang akan di gas, kemudian lakukan penempelan dan mengupayakan ruangan yang akan di gas kedap udara,
  • Ò Selanjutnya kapal di black out/ dipadamkan mesinnya, petugas   (Fumigator ) menuangkan gas dengan menggunakan APD (alat pelindung diri khusus ) yang terlebih dahulu meletakan ember-ember penampungan Ch3 Br cair di ruangan-ruangan, kemudian lakukan penyebaran Ch3Br, yang berbentuk cair  ke bagian ruangan-ruangan secara merata.
  • Ò Setelah 6 – 8 jam kemudian lakukan pembebasan gas, fumigator dengan APDnya melakukan pembukaan seal-seal kapal dan dibantu dengan blower kapal untuk mempercepat pengeluaran gas selama kurang lebih 1-2 jam.
  • Ò  Perhatian gas Ch3Br Sangat berbahaya hanya yang menggunakan masker dan canister yang masíh baik yang boleh mendekati kapal yang sedang di fumigasi, selain itu gas ini mempunyai sifat penetrasi yang Sangat tinggi dan bersifat kumulatif dalam tubuh maka, sebaiknya canister yang baik yang masíh digunakan bila perlu digunakan cukup satu kali.
  • Ò Cara pelepasan gas CH3Br selain menggunakan dituangkan ke ember-ember penampungan dalam ruangan kapal, ada cara lain yaitu menggunakan selang yang julurkan ke dalam kapal, Namur untuk kapal yang besar tidak efektif karena sering selang tersumbat oleh gumpalan/ bekuan cairan CH3Br.
  • Ò Selain itu ada juga dengan cara merebus cairan Ch3Br dalam tungku yang didalamnya terdapat selang kuningan/metal berspiral dan kemudian dialiri cairan CH3Br, sehingga yang keluar dari selang hanya gas CH3Br murni. Hal inipun Sangat efektif dilakukan pada container dan kapal yang berukuran kecil, Namur untuk kapal yang ukurannya besar agak kesulitan dalam distribusi gasnya.

SO2 ( Sulfur dioksida ),
  • Setelah melakukan perhitungan jumlah volume kapal yang akan di gas, kemudian lakukan penempelan dan mengupayakan ruangan yang akan di gas kedap udara,
  • Selanjutnya kapal di black out/ dipadamkan mesinnya, petugas (Fumigator) Membakar SO2 dengan menggunakan APD (alat pelindung diri khusus ) yang terlebih dahulu meletakan tungku-tungku  untuk pembakaran SO2 padat di ruangan-ruangan, kemudian lakukan pembakaran SO2, yang berbentuk padat  ke bagian ruangan-ruangan secara merata.
  • Setelah 8 – 10 jam kemudian lakukan pembebasan gas, fumigator dengan APDnya melakukan pembukaan seal-seal kapal dan dibantu dengan blower kapal untuk mempercepat pengeluaran gas selama kurang lebih 1-2 jam.
  • Perhatian gas ini berbahaya hanya yang menggunakan masker dan canister yang masíh baik yang boleh mendekati kapal yang sedang di fumigasi, selain itu gas ini mempunyai sifat Korosif pada bahan metal serta dapat menimbulkan iritasi pada mata dan tenggorokan bahkan pada konsentrasi tinggi akan menimbulkan odema paru bahkan kematian.

 PEMBEBASAN GAS

1. Kegiatan dilakukan oleh supervisor & fumigator diawasi oleh pengawas KKP
  • Membuka pintu utama, cerobong dan ventilasi bagian luar kapal
  • Kapal dibiarkan terbuka selama 30 – 60 menit
  • Membuka ventilasi/pintu bagian dalam kapal
  • Kapal kembali dibiarkan selama 30 – 60 menit

2. Bila ruangan mesin aman dari gas, pengawas dan supervisor meminta perwira mesin menghidupkan mesin (memakai masker)
3. Setelah mesin hidup semua orang keluar dari kapal
4. Satu jam kemudian (tergantung cuaca) memakai masker melakukan pengukuran konsentrasi gas dengan tube detector/lakmus
5. Supervisor, fumigator dan petugas lain mencari tikus serta membersihkan kapal dari sisa tempelan kertas disaksikan orang kapal
6. Bila sudah diyakini bebas gas tanpa masker, dibuat pernyataan bebas gas
7. Supervisor membuat laporan hasil fumigasi
8. Pengawas memerintahkan nakoda/perwira jaga menurunkan bendera VE dan melepas tanda bahaya

 TAHAP PENILAIAN DAN PELAPORAN
1.   perbandingan antara jumlah gas yang digunakan dengan gas yang disiapkan sesuai RPK.
2.   perbandingan antara jumlah tikus yang mati dengan perkiraan.
3.   identifikasi tikus yang mati.
4.   kematian hewan yang lain (lalat,Kecoa,dll)
5.   kejadian kecelakaan dan keracunan.
6.   kejadian kebocoran gas.
7.   kejadian pelanggaran terhadap ketentuan fumigasi kapal .
8.   disiplin dan keluhan para petugas dan ABK.

MASA POST FUMIGASI
q Kepala KKP meneliti laporan hasil pelaksanaan fumigasi yang disampaikan baik oleh Pengawas KKP maupun oleh Supervisor BUS.

q Bila telah diyakini keberhasilannya, kepala KKP memerintahkan kepada Kabid Karse/KaSie Karantina untuk memproses penerbitan SSCC bagi kapal tersebut dan pemungutan biaya PNBP (Non-Tax)