ENTOMOLOG KESEHATAN


ENTOMOLOG KESEHATAN DAN PENGERTIAN ISTILAH-ISTILAH DALAM JABATANNYA





Entomolog Kesehatan adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan teknis fungsional pengamatan, penyelidikan, pemberantasan dan pengendalian terhadap vektor penyakit/ serangga pengganggu. 


Entomolog Kesehatan Terampil adalah jabatan fungsional Entomolog Kesehatan Keterampilan yang pelaksanaan tugasnya meliputi kegiatan teknis operasional yang berkaitan dengan penerapan konsep atau metoda operasional di bidang entomologi kesehatan. 


Entomolog Kesehatan Ahli adalah jabatan fungsional Entomolog Kesehatan Keahlian yang pelaksanaan tugasnya meliputi kegiatan yang berkaitan dengan pengembangan pengetahuan, penerapan konsep dan teori, ilmu dan seni untuk pemecahan masalah dan pemberian pengajaran dengan cara sistematis di bidang entomologi kesehatan. 


Entomolog Kesehatan adalah ilmu yang mempelajari tentang vektor penyakit dan serangga pengganggu kenyamanan hidup manusia serta upaya pemberantasannya. 


Pengamatan vektor/serangga pengganggu adalah kegiatan yang bersifat rutin untuk mengetahui fluktuasi populasi vektor serangga pengganggu. 


Penyelidikan vektor/ serangga pengganggu adalah kegiatan yang bersifat insidentil/sewaktu untuk mengetahui hal-hal yang perlu diketahui tentang vektor/ serangga pengganggu dan metode pemberantasannya/ pengendaliannya. 


Pemberantasan vektor/serangga penganggu adalah upaya menekan populasi vektor/ serangga pengganggu untuk mencegah penularan penyakit atau untuk meningkatkan kenyamanan hidup manusia dengan cara-cara yang aman terhadap manusia. 


Pengendalian vektor/serangga pengganggu adalah upaya mengelola lingkungan untuk mencegah berkembangnya atau menekan populasi vektor/serangga pengganggu dalam rangka mencegah penyakit dan meningkatkan kenyamanan hidup manusia tanpa mengganggu kelestarian lingkungan. 


Vektor penyakit adalah binatang yang dapat menularkan/ memindahkan dan atau menjadi sumber penularan penyakit terhadap manusia seperti serangga, tikus, anjing, kuning, babi, kera atau binatang lainnya.

Contoh Laporan Survey Jentik Aedes sp

LAPORANSURVEY LARVA AEDES/SINGLE LARVA METHODEDI WILAYAH KERJA PELABUHAN LAUT NAMA LOKASITANGGAL 00 MARET 2019




      

1.  Data Petugas

           
Nama                                    :     A
NIP                                        :     B
Pangkat/Golongan                :     C
Jabatan                                 :     D

Nama                                    :     A
NIP                                        :     B
Pangkat/Golongan                :     C
Jabatan                                 :     D


2.      Maksud dan Tujuan

Maksud dan tujuan kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor penyebab penyakit DBD adalah :

1)        Untuk mengetahui jenis dan tempat perindukan yang menjadi sarang aedes aegypti baik indoor maupun outdoor di wilayah kerja pelabuhan laut NAMA LOKASI.
2)        Untuk mengetahui jumlah relative dari Breeding Place dan kepadatan larva di wilayah kerja Pelabuhan laut NAMA LOKASI
3)        Sebagai dasar tindakan untuk pengendalian dan rencana tindak lanjut lainnya.

3.     Ruang Lingkup

Ruang lingkup kegiatan pengamatan dan pengendalian vektor penyebab penyakit DBD di daerah endemis atau terdapat kasus yang termasuk dalam area kerja Wilayah Kerja Pelabuhan Laut NAMA LOKASI

4.      Dasar Hukum

Sebagai pedoman dasar dari pelaksanaan kegiatan pengamatan vektor penyebab penyakit DBD sebagai berikut :

1)        Undang-Undang Nomor : 36/2009 tentang Kesehatan.
2)        Undang-Undang Nomor : 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan
3)        Kepmenkes RI Nomor : 431/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Teknis Risiko Lingkungan di Pelabuhan/Bandara/Pos Lintas Batas Darat.
4)        Undang-Undang Nomor : 4/1984 tentang Wabah
5)        International Health Regulation 2005.


LOKASI DAN WAKTU PELAKSANAAN KEGIATAN

a.      Lokasi Kegiatan
Kegiatan pengamatan vektor penyebab penyakit DBD dilakukan pada are perimeter dan area Buffer pelabuhan laut NAMA LOKASI

b.     Waktu Pelaksanaan
Kegiatan pengamatan vektor penyebab penyakit DBD dilaksanakan pada tanggal 0 Maret 2019 selama 1 (satu) hari.


TUGAS YANG HARUS DILAKSANAKAN

Untuk kegiatan pengamatan vektor penyebab penyakit DBD, peralatan dan bahan harus disiapkan seperti :

1)        Cidukan
2)        Pipet
3)        Senter
4)        Botol vial
5)        Kaca pembesar
6)        Formulir pengamatan
7)        Alat tulis dan papan survey

Prosedur kerja :
a.  Pemeriksaan tempat-tempat yang diduga dijadikan sebagai tempat perindukan baik yang alamiah maupun buatan.
b.   Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan senter, jika tempat gelap atau didalam bangunan.
c. Jika ditemukan jentik, pengambilan dilakukan dengan menggunakan pipet jika air sedikit, dan menggunakan cidukan apabila volume air banyak.
d.   Kemudian, jentik dimasukkan kedalam botol dan diberi tanda (penomoran)
e.   Dihitung dan dicatat, dan dilakukan proses identifikasi jika diperlukan.

5.  HASIL YANG DICAPAI

Area Perimeter
Jumlah bangunan yang diperiksa (HI) = 5, jumlah bangunan positif jentik (H+) =2 , jumlah container terperiksa (C) = 29, dan jumlah container positif jentik (C+) = 2.

HI        =    2/5) x 100%           = 0,4%
CI        =    (2/29) x 100%       = 0,06%
BI         =
Area Buffer
Jumlah bangunan yang diperiksa (HI) = 5, jumlah bangunan positif jentik (H+) = 3, jumlah container terperiksa (C) = 23, dan jumlah container positif jentik (C+) = 3.

HI        =    3/5) x 100%           = 0,6%
CI        =    (3/23) x 100%       = 0,13%
BI         =

Hasil Identifikasi
-           Adanya siphon pada segmen terakhir.
-           Pada siphon terdapat sepasang rambut dan jumbai
-           Pada segmen abdomen tidak dijumpai rambut berbentuk kipas (palmate hair)
-           Siphon dilengkapi dengan pectin

KESIMPULAN DAN SARAN

1.        Kesimpulan

1)        Jumlah total bangunan yang diperiksa (HI) = 10 bangunan, (5 perimeter dan 5 buffer) dan total container diperiksa (C) = 52 container ( Pr=29 dan Bf = 23)
2)        Bangunan positif jentik (H+)= 2 bangunan dan container positif jentik (C+) = 3 container
3)        Angka indek area Perimeter berturut-turut HI = 0,4% dan CI = 0,06%
4)        Angka Indek area Buffer berturut-turut HI = 0,6% dan CI = 0,13%
5)        Hasil identifikasi jentik larva dari nyamuk aedes albopictus
6)        Area perimeter dan buffer memiliki angka penularan sangat kecil/rendah.

2.        Saran

1)       Perlu pengamatan rutin dan berkala terhadap tempat-tempat perkembang biakan nyamuk.
2)      Perlu pengawasan secara ketat pada musim-musim kemarau dan memasuki musim hujan, terutama pada awal tahun dan akhir musim.
3)     Sebagai dasar rencana tindak lanjut kegiatan.
4)   Ban-ban bekas mobil sebaiknya jangan di tumpuk di tempat terbuka karena akan jadi perkembangbiakan nyamuk waktu musim hujan.


         Demikian laporan ini kami buat, agar dapat dipergunakan seperlunya atas kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.



NAMA LOKASI,      Maret  2019

Pelaksana Kegiatan   : 


A                                                                                                                    
NIP                                                                                                      (......................................)

                                                                                                                                               
B                                                                                                                    
NIP                                                                                                      (......................................)



Baca Juga Laporan Contoh Laporan Vektor secara umum :

https://www.entomologikesehatan.com/2018/08/contoh-laporan-pengendalian-vektor.html

                               



Yellow Fever


YELLOW FEVER/ DEMAM KUNING/ YELLOW JACK






Definisi

Adalah sebuah penyakit sistematik yang disebabkan oleh flavivirus


Vektor Penular

Nyamuk Aedes aegypti dan nyamuk Haemagosus merupakan vektor utama yang berperan dalam penularan penyakit yellow fever dan jenis nyamuk lainnya. 



3 Jenis Penularan Yellow Fever


1. Yellow fever sylvatic, terjadi penularan di hutan hujan tropis, virus dapat ditularkan oleh nyamuk yang menggigit monyet yang mengandung flavivirus.
Vektor infekif ini kemudian menggigit manusia yang memasuki hutan yang mengakibatkan kasus sporadis yellow fever. Biasanya terjadi pada pria yang bekerja di hutan.

2. Yellow fever menengah, terjadi di wilayah lembab atau semi-lembab di Afrika. Nyamuk semi domestik (nyamuk yang berkembang biak di alam liar dan sekitar rumah tangga) mampu menginfeksi baik monyet maupun manusia.

Peningkatan kontak antara manusia dan nyamuk yang terinfeksi menyebabkan transmisi sehingga dapat terjadi epidemi dalam skala kecil. Siklus ini merupakan kasus yang sering menjadi wabah di Afrika. Wabah akan menjadi epidemi yang lebih parah apabila infeksi terjadi pada daerah yang memiliki banyak nyamuk domestik dan orang-orang yang tidak divaksinasi.

3. Ketiga, yellow fever perkotaan, epidemi besar terjadi ketika orang yang terinfeksi masuk ke wilayah padat penduduk dengan tingginya jumlah orang yang tidak divaksinasi dan tingginya jumlah nyamuk Aedes. Nyamuk yang terinfeksi dapat menularkan virus dari manusia ke manusia.



Populasi Berisiko

47 negara endemik yellow fever, 34 negara di Afrika dan 13 di Amerika. Sebuah studi sumber data di Afrika memperkirakan kasus yellow fever selama 2013 adalah 84.000-170.000 kasus parah dan 29.000-60.000 kematian. Kadang-kadang wisatawan yang mengunjungi negara-negara endemik yellow fever dapat membawa penyakit ini ke negara-negara bebas dari yellow fever. Untuk mencegah impor penyakit seperti itu, banyak negara memerlukan bukti vaksinasi terhadap yellow fever sebelum mereka akan mengeluarkan visa, terutama jika pelancong datang, atau telah mengunjungi daerah endemik yellow fever. Pada abad-abad yang lalu (17-19), yellow fever diangkut ke Amerika Utara dan Eropa, menyebabkan wabah besar yang mengganggu ekonomi dan pembangunan. Siapa pun yang akan melakukan perjalanan ke daerah endemis yellow fever seharusnya sudah mendapatkan vaksinasi tersebut. 



Gejala Yellow Fever

Penyakit ini dapat menyebabkan berbagai gejala klinis seperti demam, mual, nyeri dan dapat berlanjut ke fase beracun/toksik yang terjadi setelah itu, ditandai dengan kerusakan hati dengan jaundis/ikterik atau kulit menjadi berwarna kuning, gagal ginjal, meningitis dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian. Kata yellow/kuning diambil dari keadaan beberapa pasiennya yang menjadi jaundis/ikterik yaitu perubahan warna pada kulit dan selaput lendir yang menjadi kuning, sedangkan pada bagian konjungtiva mata berwarna merah. Karena penyakit ini menyebabkan kecenderungan pendarahan yang meningkat (diatesis pendarahan), yellow fever termasuk dalam kelompok demam haemorhagik atau kelompok demam berdarah. Pada penderita yellow fever juga dapat terjadi perdarahan antara lain melalui mulut, hidung, gusi, maupun BAB (melena). Masa inkubasi yellow fever 3 6 hari. Secara umum angka kematiannya sekitar 5 %, tetapi dapat mencapai 20% - 40% pada wabah tertentu. Penyakit yellow fever memiliki gejala awal demam akut yang diikuti ikterus dalam waktu dua minggu disertai dengan salah satu atau lebih dari gejala berupa pendarahan dari hidung, gusi, kulit, atau saluran pencernaan.


Diagnosa

Yellow fever sulit untuk didiagnosis, terutama pada tahap awal. Kasus yang lebih parah dapat dikacaukan dengan malaria berat, leptospirosis, virus hepatitis (terutama bentuk fulminan), demam berdarah lainnya, infeksi dengan flavivirus lain (seperti demam berdarah dengue), dan keracunan.

Tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dalam darah dan urin kadang-kadang dapat mendeteksi virus pada tahap awal penyakit. Pada tahap selanjutnya, pengujian untuk mengidentifikasi antibodi diperlukan (ELISA dan PRNT).


Pengobatan

Perawatan suportif yang baik dan dini di rumah sakit meningkatkan tingkat kelangsungan hidup. Saat ini tidak ada obat anti-virus khusus untuk yellow fever tetapi perawatan khusus untuk mengobati dehidrasi, gagal hati dan ginjal, dan demam meningkatkan hasil. Infeksi bakteri terkait dapat diobati dengan antibiotik.



Pencegahan


1. Vaksinasi

Vaksin yellow fever aman, terjangkau dan satu dosis memberikan perlindungan seumur hidup terhadap penyakit yellow fever. Dosis booster vaksin yellow fever tidak diperlukan.

Beberapa strategi vaksinasi digunakan untuk mencegah penularan dan penyakit yellow fever: imunisasi bayi rutin; kampanye vaksinasi massal yang dirancang untuk meningkatkan cakupan di negara-negara yang berisiko; dan vaksinasi wisatawan yang pergi ke daerah endemik yellow fever.

Di daerah berisiko tinggi di mana cakupan vaksinasi rendah, pengakuan dan pengendalian wabah yang cepat menggunakan imunisasi massal sangat penting. Penting untuk memvaksinasi sebagian besar (80% atau lebih) dari populasi yang berisiko untuk mencegah penularan di suatu daerah dengan wabah yellow fever.


Vaksinasi tidak termasuk :

a. Bayi berusia kurang dari 9 bulan;

b. Wanita hamil - kecuali selama wabah yellow fever ketika risiko infeksi tinggi;

c. Orang dengan alergi parah terhadap protein telur; dan

d. Orang dengan defisiensi imun yang parah karena gejala HIV / AIDS atau penyebab lain, atau yang memiliki kelainan timus.

Sesuai dengan Peraturan Kesehatan Internasional (IHR), negara-negara memiliki hak untuk meminta wisatawan untuk memberikan sertifikat vaksinasi yellow fever. Jika ada alasan medis untuk tidak divaksinasi, ini harus disertifikasi oleh otoritas yang sesuai. IHR adalah kerangka kerja yang mengikat secara hukum untuk menghentikan penyebaran penyakit menular dan ancaman kesehatan lainnya. Mewajibkan sertifikat vaksinasi dari para pelancong adalah atas kebijaksanaan masing-masing Negara Pihak, dan saat ini tidak diwajibkan oleh semua negara. Indonesia pihak otoritas untuk melakukan vaksinasi yellow fever adalah Kantor Kesehatan Pelabuhan.


2. Vektor Kontrol

Risiko penularan yellow fever di daerah perkotaan dapat dikurangi dengan menghilangkan potensi tempat pengembangbiakan nyamuk, termasuk dengan menerapkan larvisida ke wadah penyimpanan air dan tempat-tempat lain di mana genangan air terkumpul.

Pengawasan dan pengendalian vektor adalah komponen pencegahan dan pengendalian penyakit yang ditularkan melalui vektor, terutama untuk pengendalian penularan dalam situasi epidemi. Untuk yellow fever, surveilans vektor yang menargetkan Aedes aegypti dan spesies Aedes lainnya akan membantu memberi informasi di mana ada risiko wabah perkotaan.

Memahami distribusi nyamuk ini di suatu negara dapat memungkinkan suatu negara memprioritaskan wilayah untuk memperkuat pengawasan dan pengujian penyakit manusia mereka, dan mempertimbangkan kegiatan pengendalian vektor. Saat ini ada gudang kesehatan masyarakat terbatas insektisida yang aman, efisien dan hemat biaya yang dapat digunakan terhadap vektor dewasa. Hal ini terutama disebabkan oleh resistensi vektor utama terhadap insektisida umum dan penarikan atau pengabaian pestisida tertentu dengan alasan keamanan atau tingginya biaya pendaftaran ulang.

Secara historis, kampanye pengendalian nyamuk berhasil menghilangkan Aedes aegypti, vektor yellow fever perkotaan, dari sebagian besar di Amerika Tengah dan Selatan. Namun, Aedes aegypti telah menjajah kembali wilayah perkotaan di wilayah tersebut, meningkatkan risiko baru yellow fever perkotaan. Program pengendalian nyamuk yang menargetkan nyamuk liar di daerah berhutan tidak praktis untuk mencegah penularan yellow fever hutan (sylvatic).

Tindakan pencegahan pribadi seperti pakaian meminimalkan paparan kulit dan penolak direkomendasikan untuk menghindari gigitan nyamuk. Penggunaan kelambu berinsektisida dibatasi oleh fakta bahwa nyamuk Aedes menggigit pada siang hari.


APABILA ADA KASUS YELLOW FEVER Secepatnya laporkan kepada Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dengan tembusan Posko KLB dalam waktu 1 x 24 jam melalui surat elektronik:


poskoklb@kemkes.go.id

Telepon 021-4257125, 021-42877588

Whatsapp ; 087806783906


Sumber : WHO dan Kementerian Kesehatan

Contoh Laporan Pengendalian Vektor


CONTOH LAPORAN PENGENDALIAN VEKTOR


1.    LATAR BELAKANG

Pembangunan bidang kesehatan di Indonesia saat ini mempunyai beban ganda (double burden). Penyakit infeksi dan menular masih menjadi fokus perhatian sementara terjadi peningkatan penyakit-penyakit tidak menular. Disamping itu penyakit baru (new emerging diseases) ditemukan dan kecendrungan meningkatnya beberapa penyakit yang sudah berhasil dikendalikan (re-emerging diseases).
Penyakit tular vektor (Arthropod-borne diseases) adalah penyakit yang disebabkan oleh patogen (mikroorganisme infeksius) pada manusia, dan ditularkan melalui gigitan arthropoda seperti nyamuk, lalat, kutu, lipas, pinjal, tungau dan caplak. Diantaranya malaria, demam berdarah dengue (DBD), filariasis, chikungunya dan japanese encephalitis (Hadi 2016).
Salah satu penyakit tular vektor adalah demam berdarah dengue (DBD). Penyakit ini banyak ditemukan di daerah tropis dan sub-tropis. DBD disebabkan oleh virus dengue dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. DBD ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk Aedes spp. yang terinfeksi virus dengue, termasuk dalam kelompok B Arthropod Virus (Arbovirosis) dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu: DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 (Kemenkes RI 2010).
Penyakit tular vektor merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan, baik lingkungan fisik, biologi dan sosial budaya. Ketiga faktor tersebut saling mempengaruhi kejadian penyakit tular vektor di daerah penyebarannya. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingginya angka kesakitan penyakit tular vektor diantaranya perubahan iklim, keadaan sosial ekonomi dan perilaku masyarakat.
          Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas III Banda Aceh merupakan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan RI yang ada di daerah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal P2P. KKP Kelas III Banda Aceh dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsi yaitu melaksanakan kegiatan pengendalian vektor dan binatang penular penyakit. dilaksanakan oleh wilayah kerja sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan layanan

2.    DASAR HUKUM

1)         UU Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut.
2)         UU Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara.
3)         UU Nomor 4 Tahun 1948 tentang Wabah Penyakit Menular.
4)         UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
5)         UU Nomor 13 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji.
6)         PP Nomor 40 Tahun 1991 tentag Penanggulangan Wabah Penyakit Menular
7)         Permenkes RI Nomor 50 Tahun 2017 tentang Standar Baku Mutus Kesehatan Lingkungan dan Persyaratan Kesehatan Untuk Vektor dan Binatang Penular Penyakit Serta Pengendaliannya.
8)         Kepmenkes RI Nomor 431/Menkes/SK/IV/2007 tentang Pedoman Teknis Risiko Lingkungan di Pelabuhan/Bandara/Pos Lintas Batas Darat.
9)         Permenkes RI Nomor 356/Menkes/Per/IV/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan sebagaimana telah diubah dengan Permenkes RI Nomor 2348/Menkes/Per/XI/2011.
10)      Permenkes RI Nomor 62 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Kesehatan Haji
11)      IHR 2005

3.    TUJUAN

Tujuan Umum
Menurunnya angka kesakitan dan kematian akibat penyakit serta meningkatnya pencegahan dan pengendalian penyakit tular vektor dan zoonotik
Tujuan Khusus
Pengawasan dan pengendalian nyamuk (aedes dan annopheles)
Pengawasan dan pengendalian kecoa
Pengawasan dan pengendalian lalat
Pengawasan dan pengendalian tikus (binatang pembawa penyakit) 

4.    HASIL KERJA

a     Pengawasan dan pengendalian nyamuk (aedes dan annopheles)
1)    Surveilans Vektor Aedes
Bangunan yang diperiksa pada tahun 2016 berjumlah 2074 dan 5174 kontainer yang diperiksa. Terjadi penurunan 482 bangunan dan 714 kontainer  yang diperiksa pada tahun 2017 dibandingkan tahun 2016 (Gambar 4).
Ae. aegypti sebagai vektor yellow fever, DBD, chikungunya dan zika memiliki perilaku berkembangbiak pada wadah (kontainer) yang dapat menampung air serta tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Stadium pra dewasa mempunyai kebiasaan hidup pada wadah buatan manusia yang berada di dalam maupun di luar rumah (Harwood dan James 1979 dalam Hasyimi da Soekino 2004).
Korelasi antara bangunan dan kontainer yang diperiksa memberikan kontribusi kepada tingkat kepadatan populasi vektor DBD. Keberadaan kontainer ini sangat berperan dalam kepadatan larva Ae.aegypti. Semakin banyak kontainer, semakin banyak tempat perindukan dan kepadatan larva Ae.aegypti, maka akan semakin tinggi pula risiko terinfeksi virus DBD (WHO 2005). Pengaruh berbagai faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban dan curah hujan ikut mempengaruhi kepadatan larva Ae. aegypti.
HI area primeter tertinggi dilaporkan oleh wilayah kerja Meulaboh sebagaimana Tabel 1. 
Tabel 1    Nilai HI area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, bulan Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.22
0.22
1.00
78.0
0.00
0.00
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
Nilai HI area buffer tertinggi di wilayah kerja Sinabang (HI > 1%) dan paling rendah wilayah kerja Bandara SIM, Ulee Lheue, Lhoknga dan Meulaboh dan Labuhan Haji  (Tabel 2). Parameter HI ini menunjukkan tingkat infestasi jentik pada suatu wilayah atau tempat, sehingga semakin tinggi nilai HI menunjukkan bahwa semakin tinggi pula populasi vektor tersebut. 
Tabel 2    Nilai HI area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember, 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.13
0.00
0.00
0.00
20.0
10.0
0.00
20.0
 Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
Nilai CI tertinggi di wilayah kerja Tapaktuan sebagaimana ditunjukkan Tabel 3. CI juga menunjukkan tingkat infestasi suatu vektor pada daerah tertentu. 
Tabel 3    Nilai CI area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.13
1.50
0.00
63.0
0.20
60.0
0.00
0.00
Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil

Nilai CI area buffer tertinggi dilaporkan oleh wilayah kerja Tapaktuan (Tabel 4).

Tabel 4    Nilai CI area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.17
0.00
0.00
0.00
0.30
8.82
0.00
0.00
 Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil
 2)    Surveilans Vektor Anopheles
 Area perimeter kepadatan larva Anopheles tertinggi di wilayah kerja Sinabang rata-rata 6 larva per cidukan dan terendah di wilayah kerja Bandara SIM, Malahayati, Lhoknga dan Meulaboh dan Singkil (Tabel 7). Kepadatan larva dihitung berdasarkan Dipper Index (DI) adalah angka pengukuran larva Anopheles berdasarkan perbandingan jumlah jentik yang ditemukan dibandingkan dengan jumlah cidukan.
Survei Anopheles stadium pra dewasa, untuk mengetahui habitat dan distribusi spesies yang ada di daerah pengawasan dan hubungan larva dengan hewan atau tanaman yang ada disekitar tempat perkembangbiakan.
 Tabel 7    Kepadatan larva Anophles (DI) area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember  2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
6.00
0.30
0.00
0.00
 Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil
Area buffer kepadatan larva (DI) tertinggi di wilayah kerja Sinabang rata-rata 5 jentik per cidukan (Tabel 8).
Tabel 8    Kepadatan larva Anophles (DI) area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
5.00
0.40
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
Man Hour Density (MHD) merupakan kepadatan Anopheles stadium dewas per jam. MHD merupakan angkat kepadatan rata-rata nyamuk per orang per jam. Lokasi pengamatan dan penangkapan nyamuk dilakukan disekitar tempat-tempat perindukan yang ada disekitar pelabuhan dan bandara. MHD lebih menggambarkan pola fluktuasi populasi Anopheles pada jam-jam tertentu sehingga dapat diketahui perilaku nyamuk tersebut seperti ditampilkan pada Tabel 9.  
Tabel 9    Kepadatan nyamuk Anophles (MHD) area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
13.00
6.00
0.00
0.00

Keterangan  : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
MHD area buffer tertinggi di wilayah kerja Sinabang seperti ditampilkan pada tabel Tabel 10. 
Tabel 10  Kepadatan nyamuk Anophles (MHD) area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.04
0.00
0.00
0.00
25.00
4.00
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil
Man Bitting Rate (MBR) merupakan indek kepadatan nyamuk yang hingga per orang per malam.  Indek MBR menggambarkan perilaku menggigit (perilaku mencari darah) sehingga dapat diketahui keaktifan menggigit.
Untuk area perimeter indek MBR tertinggi di wilayah kerja Sinabang dan Tapaktuan (Tabel 11). 
Tabel 11  Kepadatan nyamuk Anophles (MBR) area perimeter menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.00
0.00
0.00
0.00
3.00
3.00
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil 
Area buffer indek MBR tertinggi di wilayah kerja Sinabang (Tabel 12) 
Tabel 12  Kepadatan nyamuk Anophles (MBR) area buffer menurut wilayah kerja KKP Kelas III Banda Aceh, Desember 2017
Bulan
Wilayah Kerja
1
2
3
4
5
6
7
8
9
Desember
0.00
0.04
0.00
0.00
0.00
3.00
1.00
0.00
0.00

Keterangan        : 1) Bandara SIM, 2) Malahayati, 3) Ulee Lheue, 4) Lhoknga, 5) Meulaboh, 6) Sinabang, 7) Tapaktuan, 8) Labuhan Haji, 9) Singkil
b.    Pengawasan dan pengendalian kecoa
Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat pada umumnya. Penyakit ini sangat dipengaruhi oleh hygiene dan sanitasi. Namun dalam beberapa kasus kejadian diare erat kaitannya dengan keberadaan vektor mekanis diantaranya lipas (kecoa). Kehidupan kecoa pada tempat-tempat lembab dan kotor sehingga beberapa kuman atau patogen dapat berpindaj ketika kecoa hingga di makanan dan tempat-tempat penyajian makanan.
c.    Pengawasan dan pengendalian lalat
Lalat bertindak sebagai vektor mekanis, keberadaan lalat erat kaitanya dengan kondisi sanitasi. Keberadaan lalat disuatu tempat merupakan indikator kebersihan dan mempengaruhi nilai estetika tempat tersebut.
d.         Pengawasan dan pengendalian tikus (binatang pembawa penyakit)
Tikus merupakan hewan pengerat (rodensia)yang sering berasosiasi dengan kehidupan manusia. Kehadiran tikus dapat menimbulkan kerugian baik ekonomi dan kesehatan. Peranan tikus dalam bidang kesehatan sebagai resevoir berbagai macam penyakit seperti leptospirosis, pes sehingga perlu dilakukan upaya pengendalian. Pengendalian mekanik dilakukan dengan pemasangan perangkap tikus.

5   PENUTUP

Demikianlah laporan ini kami perbuat, laporan ini masih banyak terdapat kekurangan untuk itu kami mohon masukan untuk perbaikan dalam penyusunan laporan di masa mendatang.


Baca Juga Contoh Laporan Survey Jentik Aedes :

https://www.entomologikesehatan.com/2019/04/contoh-laporan-survey-jentik-nyamuk.html