TOMCAT




TOMCAT 



1. MENGENAL TOMCAT


Klasifikasi taksonomi Tomcat (Paederus sp):

Phylum : Arthropoda

Kelas : Hexapoda

Ordo : Coleoptera

Famili : Staphylinidae

Genus : Paederus

Spesies : Paederus Littorarius, P. fuscipes, P.pereginus


Tomcat (disebut Tomcat karena mirip dengan pesawat Tomcat) digolongkan pada ordo Coleoptera (kelompok kumbang). Memiliki penampakan seperti semut (sering juga disebut di malaysia “semut charlie”) dengan panjang tubuh sekitar 1 cm, dan memiliki sepasang sayap namun tersembunyi. Badan berwarna oranye dengan bagian bawah perut (abdomen) dan kepala berwarna gelap. Ada 622 spesies yang menyebar di seluruh dunia. Spesies di Indonesia yang menyebabkan dermatitis adalah Paederus peregrinus. Masyarakat Indonesia biasa menyebut hewan ini dengan sebutan kumbang roveyang, semut semai, atau semut kayap. 

Paederus Peregrinus di Indonesia merupakan sebagai pemangsa (predator) hama-hama pada tanaman pertanian seperti wereng, dan lain-lain sehingga peranannya berguna untuk dipertahankan keberadaannya. Perkembang biakan Paederus dipengarui oleh musim karena Paederus berkembang biak di dalam tanah di tempat-tempat yang lembab, seperti di galangan sawah, tepi sungai, daerah berawa dan hutan. Paederus banyak ditemukan khususnya pada daerah tropis seperti Indonesia. 




2. PAEDERUS DERMATITIS


Beberapa tahun terakhir, dilaporkan adanya gangguan kesehatan Dermatitis Contact Irritant, yang diakibatkan oleh racun paederin (C25H45O9N) yang ada di badan serangga Tomcat, kecuali di sayap. 

Paederus Dermatitis adalah DKI akut yang disebabkan oleh iritan, salah satunya racun pederin yang berada di hemolimfe (darah kumbang) yang kemudian menyebabkan keluhan gatal, rasa panas terbakar, dan kemerahan pada kulit yang timbul dalam 12 - 48 jam setelah kulit terpapar pederin yang disekresikan oleh Genus Paederus (Al-Dhalimi, 2008). Kumbang ini tidak menggigit atau menyengat, namun tepukan atau gencetan pada kumbang di atas kulit akan memicu pengeluaran bahan aktifnya berupa pederin. Paparan secara langsung maupun tidak langsung (penyebaran toksin melalui tangan atau melalui handuk, baju, atau alat lain yang tercemar oleh racun serangga tersebut) (Gelmetic, 1993). 

Kulit yang terkena racun paederin (biasanya daerah kulit yang terbuka) dalam waktu singkat akan terasa panas, biasanya, setelah 24-48 jam akan muncul gelembung pada kulit dengan sekitar berwarna merah (erythemato-bullous lession) yang menyerupai lesi akibat terkena air panas atau luka bakar. Pada kasus yang jarang tidak menimbulkan gejala kulit yang berarti. Perlu dipastikan bahwa tidak ada riwayat terkena bahan kimia atau luka bakar. Lesi pada mata menyebabkan periorbital conjunctivitis atau keratoconjunctivitis dan dikenal dengan Naerobis Eye. Wabah dermatitis pernah dilaporkan juga di Australia, Malaysia, Srilangka, Nigeria, Kenya, Iran, Afrika Tengah, Uganda, Argentina, Brazil, Perancis, Venezuela, Ekuador dan India (Tjandra Yoga). 


3. PENANGANAN DERMATITIS

Sebagai langkah pengobatan dermatitis contact irritant, segera beri air mengalir dan sabun pada kulit yang bersentuhan dengan serangga ini; pastikan serangga ini tidak ada lagi untuk mencegah pertambahan lesi di kulit; kompres kulit dengan cairan antiseptik dingin seperti kalium permanganat bila sudah timbul lesi seperti luka bakar; bila lesi sudah timbul pecah, dapat diberi cream antibiotik dengan kombinasi steroid ringan; jangan digaruk atau ditaburi bedak agar tidak terjadi infeksi sekunder; beri antihistamin dan analgesik oral untuk simptomatis. 


4. PENCEGAHAN

  • Jika ada menemukan serangga ini jangan dipencet, agar racun tidak mengenai kulit, lalu masukkan ke plastik dengan hati-hati lalu buang ke tempat yang aman; Hindari terkena kumbang ini pada kulit terbuka;
  • Usahakan pintu tertutup dan bila ada jendela diberi kasa nyamuk untuk mencegah kumbang ini masuk;
  • Tidur menggunakan kelambu;
  • Lampu diberi jaring pelindung untuk mencegah kumbang jatuh ke manusia;
  • Jangan menggosok kulit dan atau mata bila kontak dengan serangga;
  • Lakukan inspeksi ke dinding dan langit-langit dekat lampu sebelum tidur. Bila menemukan, segera dimatikan dengan menyemprotkan racun serangga. Singkirkan dengan tanpa menyentuhnya;
  • Bersihkan lingkungan rumah, terutama tanaman yang tidak terawat yang ada di sekitar rumah yang bisa menjadi tempat serangga Paederus tinggal dan berkembang biak.



SUMBER : Kemenkes, 2012 & Agri Saraswati, 2013.

PERBEDAAN KECOA JERMAN DAN AMERIKA

PERBEDAAN KECOA JERMAN DAN AMERIKA


Dari nama kedua kecoa ini sudah jelas ada perbedaan yang mencolok, namun apakah kedua kecoa ini memang sangat berbeda secara morfologi nya, jawabannya adalah ya. Baca tulisan ini sampai selesai, anda akan sangat mudah membedakan mana kecoa Jerman dan mana kecoa Amerika.
Satu trik yang sangat mudah untuk kamu yang membaca tulisan ini, yang pertama kamu harus bisa membayangkan besarnya/tingginya rata-rata orang Jerman dan tidak untuk orang Amerika, biasanya tidak setinggi orang Jerman, dan sudah pasti tidak juga setinggi kita rata-rata orang Indonesia.
Untuk ukuran kedua kecoa ini malah sebaliknya, yaitu ukurang kecoa Jerman kecil kecil dan ukuran kecoa Amerika besar-besar. Ingat…. ! kecoa Jerman itu kecil kecil dan kecoa Amerika itu besar besar.


Gambar sebelah kiri adalah kecoa Jerman sedangkan sebelah kanan adalah kecoa Amerika.

Penjelasan Ilmiah
Bionomik dan Morfologi Kecoa Jerman dan Amerika


Taksonomi Kecoa
Kerajaan : Animalia
Kelas : Insecta
Infra Kelas : Neoptera
Ordo : Blattodea
Famili : Blaberidae, Blatellidae, Blattidae, Cryptocercidae, Polyphagidae, Nocticolidae
Kecoa adalah serangga dengan bentuk tubuh oval, pipih dorso-ventral. Kepala tersembunyi di bawah pronotum. Pronotum dan sayap licin, nampaknya keras, tidak berambut dan berduri. Berwarna coklat dan coklat tua.
Kecoa tergolong serangga yang tidak disukai kehadirannya oleh penghuni rumah, pemukiman dan perusahaan yang berkaitan dengan industri makanan. Sifat kecoa yang lincah, selalu berkeliaran mencari makanan pada malam hari (nokturnal) baik di rumah maupun di tempat-tempat kotor di luar rumah. Cara mencari makan demikian dikhawatirkan dapat menyebarkan penyakit pada manusia dengan meletakkan agen penyakit pada makanan, piring, peralatan memasak dan barang-barang lainnya.
Di Indonesia terdapat 2 jenis kecoa yang paling dominan yaitu kecoa Jerman dan kecoa Amerika (Periplaneta Germanica dan Periplaneta Americana). Di sampaing ada beberapa jenis lain yang jarang seperti Periplaneta Australiae, P. Brunnea dan Blatta Orientalis.

Bionomik Kecoa

Kecoa biasa berkembang biak cukup baik di lingkungan/gedung yang di dalamnya tersedia bahan makanan dan terlindung. Dapur komersil seringkali menjadi tempat perindukan ratusan dan ribuan kecoa dalam berbagai stadium. Kecoa dapat pindah dari suatu tempat ke tempat lain baik secara individu maupun dari kantung telur (ooteka) yang menempel pada kardus, tas/koper, furniture, bus, kereta api, kapal laut dan pesawat.

Prilaku kecoak

Kecoa pada umumnya dapat terbang, tetapi kebanyakan kecoa berjalan cepat, sangat aktif pada malam hari, kalau ada kecoa siang hari ini menandakan jumlah kecoa yang sangat banyak (overpopulasi). Kecoa termasuk pemakan segala (omnivor), kecoa memiliki sifat thigmotactic yaitu istirahat di dalam celah celah dinding dalam waktu lama (tiga perempat hari). Kecoa dewasa dan pradewasa seringkali istirahat dalam bentuk kelompok yang besar bersama-sama di celah yang sempit. Kecoak Jerman dewasa dapat bersembunyi dalam retakan yang lebar 1,6 mm, kecoak muda (nymph) cenderung tinggal di celah yang lebih sempit lagi agar terlindungi, biasanya kecoa ditemukan mengumpul di suatu sudut dan bergerak berjalan di sepanjang pinggiran dinding.

Tempat Perindukan

Kecoa menyukai tempat-tempat yang kotor, lembab dan sejuk seperti WC (kebanyakan kecoa Amerika), di bawah tumpukan barang barang, di gudang yang lembab dan berbau dan di tempat kotor lainnya.

Cara Hidup

Dengan tubuh yang pipih apabila merasa terganggu atau terancam kecoa akan menyembunyikan tubuhnya di celah yang sempit, kecoa juga dapat menggunakan cara lain untuk melindungi diri dari bahaya, yaitu mengeluarkan cairan berbau busuk.



 Morfologi Kecoa

1.    Caput (kepala)

Bagian kepala terdapat mulut, sepasang mata majemuk yang hanya dapat membedakan gelap dan terang. Di kepala juga terdapat sepasang antenna yang panjang (alat indera untuk mendeteksi bau-bau dan vibrasi di udara). Dalam keadaan istirahat kepalanya ditundukkan ke bawah pronotum yang berbentuk seperti perisai.

2.    Thoraks (dada)

Di bagian dada terdapat tiga pasang kaki dan sepasang sayap yang menyebabkan kecoa dapat terbang dan berlari dengan cepat. Terdapat struktur seperti lempengan besar yang berfungsi untuk menutupi dasar kepala dan saya di belakang kepala di sebut pronotum.

3.    Abdomen (perut)

Perut kecoa merupakan bagian system reproduksi. Pada ujung abdomen terdapat sepasang cerci yang berperan sebagai alat indera. Cerci berhubungan langsung dengan kaki melalui ganglia saraf abdomen (otak sekunder) yang penting dalam adaptasi pertahanan. Apabila kecoa merasakan adanya gangguan pada cerci maka kakinya akan bergerak lari sebelum otak menerima tanda-tanda atau sinyal.

KECOA AMERICA (Periplanetta Americana)

Berukuran panjang 35 – 40 mm dan lebar 13 – 15 mm, merupakan jenis kecoa yang paling besar. Bagian abdomen berwarna merah kecoklatan, pronotum berwarna kuning keruh dengan bercak coklat di bagian tengahnya. Bagian belakang abdomen mempunyai serkus yang relative panjang dan runcing seperti cemeti.

KECOA JERMAN (Periplanetta Germanica)

Kecoa berukuran kecil dengan panjang tubuh hanya 10 – 15 mm dan lebar hanya 4 - 5 mm, warna bagian abdomen coklat muda agak kekuningan, yang betina sedikit lebih tua warnanya dari pada jantan. Pronotumnya berwarna coklat, dari atas terlihat dua garis hitam memanjang. Dua garis ini juga terdapat pada stadium nimfanya. Nimfa berwarna coklat tua kehitaman bergerak cepat sangat aktif.

Sumber : Modul Materi Inti 4 KKP Makasar 2019